Kenangan Kaset Pita

Ketika menulis buku Makrifat Keindahan, saya teringat dengan masa berjayanya nasyid atau musik islami. Dulu, tahun 2007-an (atau saya lupa sebenarnya, tapi sekitaran itu), kaset pita masih menjadi sarana mendengarkan nasyid. Komputer juga masih pakai layar yang gemuk dan CPU yang besar. Selang beberapa waktu, alat semacam MP3 yang kecil-kecil juga bermunculan.

Kaset pita itu bertuliskan Gradasi, Anugerah Yang Terindah. Grup nasyid akapela yang pernah viral di zamannya. Anak rohis atau dakwah kampus jadul pasti tahu. Masa setelahnya, Jogja menjadi corong nasyid melalui Justice Voice dan Fatih Nasyid. Melalui dua grup ini (mereka sudah pakai beatbox), nasyid akapela menyebar secara masif.

Itulah mengapa, sebenarnya musik itu tergantung bagaimana “isinya”. Saya kurang sepakat dengan yang menganggap musik (secara general) itu merusak. Semua tergantung musiknya. Musik yang seperti apa?

Kalau musik yang jedag-jedug, yang cabul, yang merangsang syahwat, tentu itu memang merusak. Musik yang membuat orang semakin terpuruk? Itu jelas dan pasti. Tapi bagaimana dengan musik yang membangkitkan ghirah keislaman, bagaimana dengan musik yang mengingatkan pada aspek transenden? Bagaimana dengan musik yang mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan dan gairah hidup?

Saya sudah coba merangkum semua itu dalam buku Makrifat Keindahan. Di sini saya hanya ingin menyampaikan soal bagaimana musik itu hanya sebagai “sarana” saja. Karena sarana, maka itu hanya salah satu. Lainnya? Tentu banyak. Setiap orang biasanya memiliki cara masing-masing, khususnya dalam membangkitkan semangat hidupnya. Musik, sekali lagi hanya satu.

Kenangan akan lagu Muhasabah Cinta karya Edcoustic sebut saja, jamak diketahui bahwa banyak orang yang tersadarkan melalui lagu ini. Suatu amal jariyah luar biasa bagi almarhum Kang Aden (vokalis Edcoustic). Coba saja cari lagu itu, dengarkan.

Mengenang kaset pita dan masa-masa dulu sungguh indah. Tak seperti sekarang yang ketika membuka media sosial, lagu atau musiknya semua berubah menjadi koplo dan jedag-jedug tak jelas. Owalah cah…, cah…!

Ya, wajar jika ada sebagian alim yang mengatakan kalau musik itu sungguh merusak. Ya, karena yang gini-gini. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *