Sebagian kita mengenal hasil ekspresi sebagai sebuah karya. Apa pun itu. Bisa berwujud puisi, cerita, lukisan, gambar, musik, kriya, dan aneka macam lainnya.
Semua bagian dari pengungkapan ekspresi. Sayangnya, misal di dalam seni, eksrpresi selalu diidentikkan dengan sesuatu yang boleh sebebas-bebasnya. Mengapa bebas? Karena namanya saja ekspresi. Bebas, terserah kita. Kerap dijumpai sebagai sesuatu yang “murni”.
Di sana mengungkap segala sesuatu dari apa yang dirasa dan apa yang dipikirkan.
Pemahaman semacam itu sudah disebarkan secara terstruktur melalui teori-teori yang diajarkan di dunia akademik. Sudah jamak diketahui.
Sebagai pengetahuan, tentu saja tak masalah. Menjadi persoalan jika yang diajarkan dan yang diketahui oleh mereka yang belajar hanya itu saja, lalu titik. Di balik semua itu, sesungguhnya ada hal yang terlupakan.
Ternyata, kita hidup ada batasan. Jika Muslim, batasan yang seharusnya dipakai adalah Islam itu sendiri. Akhirnya? Sebagai pujangga, sastrawan Muslim memiliki syariat sebagai batasan dia berekspresi. Sebagai seniman, pelukis Muslim bebas berekspresi apa saja asal tak menyalahi syariat. Dan seterusnya, setiap karya yang diekspresikan selalu tak boleh dilepaskan dari lingkaran syariat.
Sayangnya, nilai-nilai dan pemahaman Barat terlalu lekat dalam setiap pembelajaran seni, sastra, dan semacamnya. Padahal, kita sendiri telah memiliki sistem yang begitu canggih. Kita punya pandangan hidup yang jelas mapan dan tak lekang zaman.
Sungguh sayang memang. Saya pikir, itu tugas para seniman, sastrawan, akademisi (Muslim), untuk selain berkarya, juga terus menghasilkan tulisan, riset, kajian, syukur-syukur mampu banyak mempengaruhi kebijakan-kebijakan pendidikan di bidangnya masing-masing yang berkaitan.
Agar yang berlahiran adalah orang-orang yang tak menghilangkan agama dari segala kehidupannya. Agar yang berlahiran adalah karya-karya yang bermanfaat sesuai syariat. []
Viki Adi N
