Perhelatan Pemilu tahun depan sudah mulai menghangat. Banyak sekali muda-mudi yang menjajakan dirinya sebagai calon anggota legislatif. Terlepas apakah maju karena keinginannya atau didorong oleh orang lain. Posternya sudah mulai terpampang di mana-mana.
Entah mengapa saya jadi ingat dulu. Masa-masa yang begitu berarti dalam hidup dan akhirnya merubah cara pandang terhadap semuanya, khususnya dunia politik.
Melalui tulisan ini, saya ingin berpesan bagi muda-mudi yang kini bersiap untuk berkontestasi di ajang perpolitikan. Pesan saya, jangan terlalu fanatis. Itu saja. Tak ada yang lain.
Politik dibuat biasa saja. Jangan keterlaluan dan berlebihan dalam menyikapinya. Mengapa? Saya sudah pernah merasakan hidup di bawah bendera sikap berlebihan atau fanatis.
Saya pernah merasakan bagaimana persaudaraan keluarga lenyap hanya karena perbedaan pilihan politik. Saya pernah melihat dan mendengar dengan mata kepala sendiri, seorang yang dipanggil ustadz menjelek-jelekkan saudara seimannya hanya karena perbedaan sikap politik. Saya pernah mendengar secara langsung, orang yang selama ini selalu diharapkan, selalu dihargai, tetiba saja dibanting dan dijatuhkan di suatu majelis hanya karena dituduh berbeda sikap politiknya yang belum tentu benar. Saya sendiri demikian, pernah menghadapi peliknya tudingan-tudingan yang menyakitkan secara langsung dalam suatu forum. Bahkan, saya pernah turut merasakan kesedihan bagaimana harta lenyap tak berbekas hanya karena ambisi sebuah jabatan politik.
Pengalaman yang begitu sedikit itu menyisakan kenangan yang tak terlupa bahwa dunia politik jangan terlalu dibuat “serius”, jangan terlalu fanatis. Saya mulai berpartai (menjadi pengurus) ketika masih celana abu-abu. Saya juga pernah merasakan verifikasi dor to dor oleh (kalau tak salah) KPU secara langsung. Alamat KTP-nya didatangi dan diverifikasi langsung. Apakah benar ini adalah pengurus? Kata petugas yang datang, banyak sekali KTP yang formalitas. Ketika diverifikasi ternyata yang bersangkutan tidak pernah menjadi pengurus. Sesuatu yang menandai bahwa politik kita itu memang benar-benar uang.
Sampai suatu titik dengan berbagai pengalaman, termasuk yang saya sebut di atas, akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan. Saya memilih jalan yang mungkin sekarang kalian tahu dan mengenal saya sebagai apa. Meski sebenarnya, KTP saya masih terdaftar sebagai pengurus. Saya masih menghargai kakak saya yang telah berjuang di daerahnya, untuk itulah saya memberikan KTP tersebut untuk digunakan sebaik-baiknya. Tentu saja, saya akan berdoa dan mendukungnya di perhelatan esok.
Pengalaman yang saya tulis ini barulah sedikit. Sangat sedikit. Bayangkan saja mereka yang sampai pernah dipenjara hanya karena fitnah politik. Itu lebih gila.
Sekali lagi, pesan saya: jangan terlalu fanatik. Biasa saja. []
Viki Adi N
