Orang Tua Butuh Peka

Suatu ketika seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Ayah bunga itu indah ya. Tapi sayang batangnya bengkok tidak lurus.” Sang ayah mengiyakan apa yang di ungkapkan sang anak. “Kenapa tidak kita luruskan saja yah?.” Kata sang anak dengan polosnya. “Kalau kita luruskan saat ini, maka batangnya akan patah.” Jelas sang ayah. “Kamu tahu kenapa hal itu terjadi nak?” Lanjut ayah dengan pertanyaan kepada sang anak. “Kenapa yah?” jawab sang anak dengan rasa penasaran. “ Hal itu karena sejak kecilnya ketika tanaman itu bengkok tidak segera diluruskan, sehingga ketika sudah dewasa tak dapat lagi diluruskan.” Kurang lebih seperti itu dialog yang disampaikan Habib Umar penulis kitab Akhlaq lil banin.

Lantas apa maksud cerita di atas? Cerita tersebut menggambarkan tentang pendidikan yang kita lakukan kepada anak-anak kita. Entah kita yang memang sudah menjadi orang tua, maupun kita yang memang berprofesi sebagai pendidik. Sejatinya, permasalahan yang timbul pada anak ketika dewasa adalah akumulasi dari ketidakpedulian orang tua ketika anak masih kecil. Pembiaran dan pemakluman yang sering diberikan oleh orang tua dengan dalih kasihan atau ucapan “ia kan masih kecil” seringkali menjadi bom yang akan melukainya ketika sang anak dewasa. Misalkan saja ketika sewaktu kecil anak berbicara kotor atau berbicara kasar lantas orang tua menganggap hal itu sebagai hal lumrah yang dilakukan seorang anak karena ketidaktahuan mereka, maka apabila sikap tak acuh itu terus dibiarkan maka anak akan terbentuk akhlak untuk berbicara kasar ataupun kotor. Atau orang tua yang melihat anaknya mengambil barang temannya, lalu membiarkannya dan tidak menasehatinya atau bahkan lebih parahnya malah melindungi anaknya dengan alasan rasa malu kalau tetangganya tahu anaknya yang mengambil barang temannya, hal ini tentu akan membuat fikiran sang anak menilai bahwa apa yang ia lakukan adalah suatu hal yang dibenarkan dan ada yang melindungi, sehingga akan membentuk pribadinya menjadi anak yang gemar mengambil barang orang lain (pencuri).

Menjadi orang tua atau pendidik harus punya setidaknya kepekaan dan kegretehan (kepedulian untuk mengingatkan). Karna orang tua dan pendidik adalah arsitek yang akan membangun peradaban masyarakat dengan melahirkan generasi-generasi yang memiliki akhlaq. Dan hal ini tidak akan pernah tercapai apabila mereka tak punya kepekaan terhadap kondisi anak. Imam Hasan Al Banna dengan segudang aktivitasnya selalu membawa stopmat khusus yang ia bawa kemanapun ia pergi. Apa isi stopmap itu? Ijazah? Sertifikat tanah? Atau piagam penghargaan? Bukan. Stopmap itu berisi kumpulan laporan perkembangan anak-anak beliau yang beliau dapat dari istri beliau. Didalamnya tertulis lengkap tentang kabar uptodate anak-anak beliau, dan hal ini memang dalam rangka mengetahui kondisi dari anak-anaknya, sehingga ketika ada sesuatu yang harus beliau perbaiki dari anaknya, beliau akan tahu harus memulai dari mana.

Sosok orang tua adalah hal terpenting bagi pembentukan karakter dan visi anak. Anak yang kehilangan sosok orang tua akan mencarinya dari orang-orang yang berada diluar rumah mereka. Kehilangan sosok orang tua tidak sama dengan kehilangan orang tua. Kehilangan sosok orang tua itu seperti jasadnya ada tapi jiwanya entah dimana, tak ada sentuhan cinta, tak ada perhatian, tak ada keharmonisan. Yang akhirnya membuat sang anak tidak pernah nyaman berada dekat dengan orang tuanya, ia memilih pergi ke jalanan untuk mendapat kepuasan rasa dari kawan-kawannya yang entah bagaimana akhlaq dan karakternya. Hasilnya, anak akan ikut-ikutan dengan apa yang teman-temannya lakukan karena hal itu membuatnya diterima dan diperhatikan. Jika sudah seperti ini, nasihat yang dikemukakan orang tua sudah seperti bola bekel yang dilempar ke lantai, mental semua. Tidak ada nasihat yang masuk, bahkan lebih banyak penolakan dari diri anak.

Untuk mencegah hal itu, karena kata orang mencegah lebih baik dari mengobati, maka tidak ada kompromi lagi bahwasanya orang tua dan pendidik harus hadir dan peka terhadap anak sejak dini, sejak usia anak masih kecil. Bukan hanya menegur dan menasehati apabila anak bersalah, tapi juga memberikan motivasi jikalau anak berprestasi. Bukan sekedar memberikan janji lantas tak ditepati, tapi juga harus memberikan contoh akhlaq yang terpuji. Kalau sedari awal anak sudah dekat dengan orang tua dan pendidik dalam masalah hati, maka ketika dewasa insyaaAllah anak akan selalu berbakti. Tinggal bagaimana kita mengelola diri untuk terus bisa membersamai anak sejak dini, jasad tak perlu selalu hadir tapi rasa dan cinta harus selalu membersamai.

AW Adi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *