Saya coba memperhatikan mengenai hal ini dalam waktu yang cukup lama, khususnya ketika mulai menyukai buku dan turut menjajakannya sampai hari ini. Begitu banyak dari kalangan umum, khususnya kalangan profesional, yang tertarik kepada “mendalami” agama Islam biasanya kerap berawal dari mengkhazanahi sejarah (peradaban) Islam. Kemudian berlanjut kepada pemikiran Islam. Jadi logikanya seolah kebalik dari urutan jika kita belajar agama pada umumnya. Tapi di situlah menariknya. Ada interaksi dalam mengkaji kisah yang turut mengantarkan pembacanya pada karya atau pemikiran tokoh-tokoh yang dibaca.
Namun, tentu saja kasus sebagaimana yang disebutkan di atas tidak berlaku general atau semua-muanya. Ada banyak pengecualian bagi orang-orang tertentu yang memiliki “pola” pembelajaran yang berbeda. Dan mungkin saja, itu terjadi pada kawan-kawan yang sedang membaca tulisan ini.
Dengan mengamati temuan di atas, saya jadi mengerti kalau kisah atau sejarah itu memang begitu bagus untuk membangkitkan atau menyadarkan serta mengaktifkan akal dan perasaan termasuk kesadaran dari manusia. Sadar atau tidak sadar, kitab suci Al-Qur’an juga sebagian besar berisi kisah-kisah yang perlu terus untuk ditadabburi dan dikaji.
Banyak kalangan profesional kemudian mengkaji buku-buku dari kisah-kisah tersebut yang sudah disusun oleh para alim ulama atau ahli sejarah Islam. Akal dan perasaan aktif lalu sedikit demi sedikit berjalan menuju bahasan-bahasan lain, termasuk menyelami peradaban Islam sampai pemikiran-pemikiran, kegemilangan yang pernah terjadi, sampai kemunduran yang dialami. Setelah itu, bahasan akan menuju pada perenungan kondisi umat saat ini dan membandingkannya dengan masa lalu.
Lalu, apa berikutnya? Kesadaran para pembaca atau pengkaji tiba pada suatu keinsafan dan keprihatinan kondisi umat. Ghirah mereka terhadap agama bangkit. Proses-proses selanjutnya akan mengantarkan mereka pada mengilmui banyak khazanah Islam lainnya. Sampai-sampai keprofesionalan mereka juga mulai “dipertaruhkan” untuk kontribusi pada agama dan umat.
Jadi, jangan PEDE jika kita saat ini mendaku sebagai aktivis dakwah dan melihat “rendah” orang lain yang seolah-olah tak menjadi sesama barisan. Karena saya melihat, kalangan umum yang bertajuk profesional ini justru memiliki kesadaran dakwah secara nyata di lapangan melalui profesinya. Bahkan mereka seolah tidak pernah sama sekali menyinggung kata “dakwah” pada jasa dan kontribusinya. Mereka melakukan itu atas kesadaran sejarah bahwa umat terbaik di masa lalu pernah melakukan kontribusi terbaiknya untuk kebermanfaatan manusia, dan tak ketinggalan atas kemurnian niat mereka yang ditujukan kepada Allah Swt.
Apakah hipotesis saya benar atau tidak? Saya juga tidak tahu. Tetapi itulah kira-kira yang saya amati dari mereka. Setiap bulan mereka menganggarkan uang belanja untuk buku dalam jumlah yang tak kecil. Dari list mereka dan terkadang sedikit diskusi ringan sampai kadang agak mbentoyong (baca: agak berat) saya jadi mengerti tentang apa yang mereka pikirkan, rasakan, sampai yang mereka lakukan.
Tentu saja semua itu menarik untuk dikaji. Suatu fenomena yang para peneliti biasanya menyebut sebagai fenomena “kebangkitan” kelas menengah Muslim. Dan semua itu bermula dari dikhazanahinya buku-buku sejarah Islam. Sungguh menarik. []
Viki Adi N
