Nostalgia KAHFI

Ketika sedang menyunting naskah “Mendaras Hikmah di Bumi Formosa” karya Mba Nurra Keprin, saya teringat KAHFI. Mata saya terhenti pada pembahasan seputar khilafiyah mengenai telapak kaki perempuan, lebih tepatnya bahasan kaos kaki. Mba Nurra mencatat bahwa Muslimah di Taiwan mayoritas bermadzhab Hanafi dan tidak ada yg memakai kaos kaki ketika shalat. Perlu dicatat, di sana tak ada yang memakai ruku seperti di Indonesia. Jadi, selagi kain yang menutupi tubuh sudah masuk kategori menutup aurat, semuanya selesai. Tak ada masalah. Saya teringat mengenai KAHFI karena dulu saya pernah bertanya ke Ustadz yang mengisi terkait persoalan telapak kaki, lebih tepatnya masalah kaos kaki. Jawaban Ustadz sederhana, “Ya jelas aurat.” Padahal saya juga tahu kalau itu aurat. Jawaban serentak juga keluar dari bilik akhwat, “Ya jelas kalau itu.” Semua menjawab serempak.

Padahal, dulu saya ingin tahu mengenai soal perbedaan madzhab memandang. Tapi karena jawabannya gitu doang ya sudah. Saya diam dan tersenyum. Mungkin, pertanyaan saya salah dan kurang tepat. Mungkin, kader KAMMI memang dianggap “kurang” kali ya dan dipandang sebelah mata soal referensi. Persoalan ini juga sebenarnya sudah dituliskan di buku Keakhwatan yang sering dibaca kader KAMMI, meski cuma disinggung sedikit saja.

Karena teringat KAHFI, saya juga jadi teringat soal bagaimana saya ingin menghidup-hidupi kajian tentang pemikiran asy-syahid Ustadz Hasan al-Banna. Menurut saya, kajian KAHFI sebelumnya terlalu berputar-putar membahas arkanul baiah saja, tak sampai ke dua puluh prinsip atau ke semua pemikiran al-Banna.

Itulah mengapa seringkali saya memberikan masukan jika ditanya mengenai KAHFI agar bahasannya diperluas ke kajian pemikiran dan semacam studi tokoh serta sejarah keorganisasian dan bagaimana dinamika itu berjalan. Pasalnya KAMMI adalah organisasi keindonesiaan yang mau tak mau harus bisa menyesuaikan kehidupannya. Tidak bisa letterlejk jika ingin mengambil inspirasi Ikhwan (IM). Dari paradigma KAMMI yang telah disusun oleh para senior, kita akan tahu sejauhmana pengaruhnya. Ternyata tak semuanya terinspirasi Ikhwan. Lihat saja ada inspirasi Tauhid sosial Pak Amien Rais, ada inspirasi intelektual profetik Pak Kuntowijoyo, dan lain sebagainya. Selain di komisariat KAMMI UNY, saya juga mendorong komisariat lain untuk mengadakannya. Sampai saat ini, saya tak tahu apakah KAHFI masih ada atau sudah tamat riwayatnya.

Kalau ditanya, apa pentingnya mempelajari pemikiran al-Banna atau Ikhwan di KAMMI? Jawabannya singkat: Ya, karena hampir sebagian besar pemikiran KAMMI memang terinspirasi dari Ikhwan. Namun, karena hanya sebagian ya tentu saja kita juga perlu melahap pemikiran-pemikiran tokoh seperti yang telah saya sebut di atas misalnya. Jadi, memang tidak Ikhwan melulu. Kan lucu, kita ngerti banget mengenai Ikhwan tetapi sejarah pergerakan nasional sendiri tak tahu. Itu namanya kebangetan.

Nah, sudah dua lapis kan ingatan saya kemana-mana. Ingatan selanjutnya, gara-gara mengingat nama al-Banna saya jadi teringat naskah yang dulu saya tulis: Rajut-Rajut Pemikiran Hasan al-Banna. Sepertinya saya menyerah. Kemungkinan saya tak akan melanjutkannya. Kalau saya tulis, sepertinya sudah tidak bermanfaat. Ya, siapa juga kali yang mau membacanya. Buku-buku atau kajian mengenai tema ini sudah jamak kita ketahui: tak diminati. Bahkan dari sudut pandang luar: ekstrem! Lebih jauh lagi: teroris!

Mau kalau kalian dianggap ekstrem, radikal, atau teroris?

Sebenarnya, jika buku ditulis dengan sikap objektif dan ilmiah. Tentu saja itu akan menjadi sebuah kajian yang bagus. Label ekstrem atau radikal seharusnya sudah tak disematkan. Toh, itu adalah kajian ilmiah mengenai suatu pemikiran tokoh layaknya penelitian seseorang terhadap pemikiran Tan Malaka, Soekarno, Natsir, Hamka, Kartosuwiryo, dan lain sebagainya.

Kalau kata istri saya begini, “Kalau buku ini jadi, kan pembacanya bukan cuma kelompok tertentu saja, bukan cuma kalangan Tarbiyah saja?”

Iya betul sekali. Perkataan ini memang benar. Tapi persoalannya, anak jaman sekarang sudah tak lagi membaca yang begituan. Padahal, yang ingin saya sasar jika buku ini jadi adalah anak-anak muda, khususnya anak-anak muda yang memang ingin mengetahui siapa sosok al-Banna, bagaimana pemikirannya, gerakannya, serta bagaimana relasinya dengan zaman kini. Kalau begitu, kan jadi kurang relevan?

Anak-anak muda zaman sekarang sepertinya, saya amati lebih suka dengan buku atau kajian dengan tema-tema yang berhubungan dengan kesehatan mental, psikologi, kejiwaan, parenting, dan semacamnya yang biasanya berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Memang sangat wajar dengan kondisi dunia kini yang serba penuh citra. Kelesuan, putus asa, kehilangan daya hidup, seperti makanan yang bisa kita lihat sehari-hari di dunia jagad maya.

Sampai sini, persoalan semacam pemikiran atau gerakan tentu saja kurang nyambung. Saya yakin, kader KAMMI yang paham pasti bisa merasakannya.

Jadi, jika kalian sedang ingin menulis buku, tulislah topik-topik yang saya sebutkan tadi jika ingin populer dan menghasilkan. Buat bahasan yang menarik dan beda dari yang sudah ada. []

Notes: KAHFI itu singkatan dari Kajian Harakah dan Fikrah Islam. Salah satu program kerja bidang kaderisasi di PK KAMMI UNY.

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *