Kemarin, saya bertemu kawan yang menjajakan buku. Ada beberapa yang membuat mata saya auto tertarik. Pertama, karya Samuel Huntington. Lalu yang lainnya ada karya Gladwell dan Carnegie. Dua nama terakhir ini sering nampang di Gramedia. Meski begitu, sejak mahasiswa sebenarnya saya kurang tertarik dengan buku tema-tema begitu. Selanjutnya, ada satu buku berwarna merah mencolok yang ditulis oleh pemilik perusahaan Virgin Group. Saya coba buka lembaran-lembaran pertama buku itu. Richard Branson menuliskan bahwa jadilah apa yang kamu inginkan karena hidup hanya sekali. Katanya, jika dia menjalani sesuatu yang tak diinginkan (dalam konteks usaha/bisnis) dan tidak nyaman, dia akan segera meninggalkannya.
Kita tahu ini perspektif subjektif dan tentu saja sangat pribadi dari Branson yang telah menjadi orang sukses sebagai pengusaha. Sampai-sampai teman-temannya juga mengatakan begitu. Dan, saya yakin kita juga akan berpikir sama, “Kan dia sukses, punya banyak perusahaan, jadi bisa bilang begitu.” Tapi Branson menolak tuduhan itu, justru dia melakukan dan mengatakan seperti itu karena dia telah mengalami kesusahan, kepayahan, kegagalan, dan banyak percobaan dari proses menuju suksesnya. Menuju sesuatu yang dia maksud sebagai “apa yang disukai”.
Sebagai manusia, kita pasti menginginkan demikian. Ambil contoh misalnya tentang pekerjaan. Kita pasti punya keinginan untuk bekerja dan menekuni sesuatu yang disukai. Kita ingin menjadi apa dan seperti apa. Namun, di perjalanan memang tak selalu mulus. Itu memang sudah sunatullah. Ada ujian, tantangan, dan semacamnya. Idealisme dan cita kita ingin menjadi apa, namun realitasnya justru menjadi apa. Di situ ada gab (jarak) yang cukup jauh. Kepala kita memandangnya demikian.
Nah, di sinilah sebenarnya tugas utama yang perlu kita pikirkan. Ialah mendekatkan apa yang jauh itu. Mendekatkan idealisme dan cita dengan realita yang kini sedang terjadi. Kita perlu “membangun jembatan”. Sebagai seorang Muslim yang memiliki keyakinan kepada Tuhan; optimis, berprasangka baik, sabar, dan tawakkal kepada Allah adalah kunci yang harus dipegang.
Membangun jembatan adalah proses. Branson di atas sedang mengatakan kepada kita bahwa orang selalu melihat ketika dia sudah sukses tetapi tidak melihat bagaimana dia berproses. Itulah yang luput dari manusia, biasanya.
Lalu, bagaimana cara membangun jembatannya? Jembatan tidak bisa dibangun jika tidak punya tujuan atau capaian di ujung yang jelas. Jadi, yang pertama adalah tentukan capaian atau tujuan itu. Untuk memudahkan, saya beri contoh riilnya.
Ada seorang perempuan muda yang bekerja di sebuah perusahaan percetakaan. Dia belajar banyak di sana dari persoalan yang paling kecil sampai yang paling besar. Dia mengusulkan banyak ide termasuk bagaimana sebuah percetakan bisa menarik lebih banyak pelanggan. Idenya banyak yang dipakai, tetapi banyak juga yang diabaikan. Selain bekerja sesuai tupoksi di sana, ia juga banyak belajar sesuatu yang berada “di luar” kendalinya. Ia belajar bagaimana me-layout, bagaimana mendesain, tentang videografi, dan lain sebagainya. Ia belajar banyak hal dari manapun. Tak semuanya dari perusahaan tempat dimana ia bekerja.
Setelah 10 hingga 15 tahun, bagaimana kabarnya? Perempuan ini sudah punya penerbitan dan percetakan sendiri. Ternyata, itu memang tujuan awalnya. Dia bangun titik capaian itu. Tetapi karena pada awalnya ia tidak punya apa-apa―otomatis ia butuh ilmu, pengalaman, materi/dana, dan apa saja yang berhubungan dengannya―, maka ia harus belajar dari mana saja. Dia harus membangun jembatannya terlebih dahulu dan Itu adalah konsekuensinya. Ia butuh waktu 10 hingga 15 tahun untuk membangun apa yang tadi kita sebut sebagai “jembatan”.
Memang, waktu 10 atau 15 tahun itu lama. Tapi itu memang kegilaan yang dia lalui. Selama lima belas tahun itu, ia belajar kepada siapapun, tentang apapun, dan dimanapun. Ia belajar semua yang berhubungan dengan titik yang ingin dicapai dan mengurangi semua hal yang kurang berhubungan dengan titik tujuannya. Sehingga jembatan itu akan membuat jalur yang lebih cepat tanpa harus berputar-putar. Road map-nya jelas.
Saya hanya geleng-geleng kepala ketika mendengar ia bercerita. Saya sebenarnya tidak menyimaknya. Saya hanya mendengar pembicaraan tepat di sampingnya. Ide-ide besar yang dulu ditolak oleh tempat ia bekerja, akhirnya ia praktekkan sendiri di perusahaan miliknya. Sekarang, tempat miliknya telah mempekerjakan banyak orang dan bahkan bisa menyaingi tempat dimana ia pernah bekerja dahulu. Saya takjub soal ia bertahan untuk menimba ilmu, pengalaman, dan mencari modal (dana) selama lima belas tahun. Ini proses yang tak mudah.
Dan, sekali lagi, ini bukan hanya soal pekerjaan, ini soal apapun. Ini soal keinginan kita untuk menjadi apa dan soal kemauan kita akan menjalani hidup yang seperti apa.
Kelemahan sebagain besar manusia adalah soal durasinya. Mengapa tidak bisa instan? Mengapa tidak bisa cepat? Tetapi, dengan kita memperhatikan durasi usia manusia setidaknya akan ada semangat untuk mengejar. Kita punya deadline di dunia, namun kita juga punya target apa yang kita inginkan. Kalau kata Syaikh Hasan al-Banna kurang lebih dimikian, “Tugas kita itu banyak, tetapi waktu kita sedikit. Maka dengan waktu yang sedikit itu, kita perlu menyelesaikan tugas-tugas yang ada.”
Jika sekarang kita masih belum berpikir apa-apa tentang ke depannya. Tak masalah. Pikirkan saja yang sekarang. Mulai saja dari awal. Maksudnya, mulai buat road map diri kita masing-masing sekarang juga. Mau seperti apa kita dan mau menjadi apa. Tentu saja, niatkan semuanya untuk beribadah kepada-Nya. Jadikan semua road map itu, meski mengambil tujuan dunia, juga sekaligus tujuan yang kekal (akhirat). Mau tak mau, jembatannya memang harus dibangun. Jangan sampai kita terlalu mengalir dan membiarkan apa adanya, atau bahkan menyerahkan kehidupan kita kepada yang lain. Menyerahkan orang lain menuliskan kehidupan kita itu tak baik. Kita adalah kita. Saya adalah saya. Bukan orang lain. Setiap kita punya kekhasan. Kita bisa menjadi apa yang kita mau, insya Allah. []
Viki Adi N
