Nativisasi Berujung Islamophobia

Istilah nativisasi mungkin jarang terdengar di telinga kita, padahal istilah tersebut sangat penting untuk kita ketahui, sebab berkaitan dengan upaya mempertahankan nilai-nilai islami dalam kebudayaan bangsa. Menurut Beggy Rizkiansyah dari Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) Istilah Nativisasi merupakan buah dari paham sekularisme sebagai cara untuk mengerdilkan peran Islam dengan cara menghidupkan kembali budaya pada zaman pra-Islam.

Dalam sebuah kajiannya Beggy Rizkiansyah mengulas secara detail tentang gerakan nativisasi ini. Ia menjelaskan bahwa salah satu sebab pemerintah kolonial dan misionaris berhasil menghilangkan identitas Islam di Nusantara ialah dengan cara mempelajari budaya Indonesia hingga pendidikan dan sosial-politiknya. Perlu diketahui bahwasanya sejak abad ke-17 Pemerintah kolonial dan misionaris sudah melakukan kerjasama dan saling membantu dalam menyebarkan paham nativisme dengan menghidup-hidupkan kebudayaan lama yang telah terkubur dan mati dalam masyarakat.

Masalah ini juga pernah dituliskan oleh seorang pakar sejarah Melayu, Prof Naquib al-Attas, dalam bukunya Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Bandung: Mizan, 1990), di dalam buku tersebut ia menulis bahwa upaya-upaya yang cenderung ke arah menihilkan peranan Islam dalam sejarah kepulauan ini, sudah terlihat jelas, seperti yang tertuang dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu.”

Cendikiawan dan filsuf Islam asal Malaysia tersebut menolak keras teori para lulusan yang berasal dari kampus Barat yang menyatakan bahwwa kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indonesia ini tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi peradaban di wilayahnya. Berdasarkan tulisannya dinyatakan bahwa banyak sarjana yang menganggap nilai nilai Islam tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas budaya Melayu. Ia pun menepis semua pandangan tersebut. menurutnya paham itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.

Sampai saat ini tantangan nativisasi di Indonesia terutama bagai perkembangan dakwah Islam di Indonesia masih terus terasa. sebagaimana ungkapan Muhammad Natsir yang menyatakan bahwa ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam di Indonesia salah satunya adalah gerakan nativisasi. Ia juga mengingatkan kepada umat Islam agar mengamati dengan serius gerakan nativisasi yang dirancang secara terstruktur oleh orang-orang yang membenci Agama Islam di Nusantara ini.

Upaya nativisasi yang dilakukan tak jarang berlindung di balik perlindungan “kearifan lokal” (local wisdom), para pemikir dan penganut gerakan nativisasi mengkampanyekan kembali berbagai aksi budaya lokal yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam sengaja. Bahkan, salam-salam lokal disebarluaskan dan dibudayakan. Seolah-olah, dengan ucapan “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wa-barakaatuh” saja tidak cukup menunjukkan identitas sebagai manusia Indonesia yang baik.

Semakin massivenya gerakan nativisasi yang digencarkan. Maka dibutuhkan upaya antisipasi yang dilakukan oleh seluruh umat Islam di Indonesia, sebab jika terus dibiarkan maka akan menimbulkan berbagai gerakan baru yang memiliki nafas yang sama yaitu anti terhadap Islam. Seperti fenomena Islamophobia yang sampai saat ini begitu meresahkan. Ditambah lagi dengan semakin kuatnya pengaruh globalisasi yang terjadi semakin mempermudah akses masuknya berbagai media, pemberitaan, dan kampanye lain terkait hal-hal yang mendiskreditkan nilai-nilai Islam di Indonesia.

 

~ M. Iqbal

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *