Mulailah Berkomitmen untuk Tidak dengan Penugasan

Judul ini adalah pesan untuk kita yang hanya membaca buku dikarenakan penugasan atau diwajibkan. Penugasan-penugasan atau kewajiban-kewajiban untuk mendaras buku biasanya disusun atau diperintahkan oleh organisasi, lembaga, bahkan sampai perorangan semisal dosen, guru, trainer, ustadz, Kyai dan lain sebagainya.

Maksud kata “tidak” di atas bukan berarti kita menolak soal penugasan itu, tetapi ialah membuat komitmen bahwa membaca itu harus selalu ditumbuhkan dengan kesadaran. Meminjam istilah Akhmad Suhrowardi dalam tulisannya di buku Pesan untuk Kini dan Nanti, yang perlu kita camkan ialah kesadaran berpengetahuan.

Penugasan yang telah disusun itu pasti memiliki tujuan yang baik dan khusus. Tetapi tak bisa selamanya kita mengandalkan “penugasan”. Jika penugasan membaca atau mengkaji buku diberikan oleh organisasi, tak selamanya kita akan menjadi anggota organisasi tersebut. Siapa tahu organisasi tersebut memiliki batas usia anggota, misalnya. Jika penugasan dilakukan oleh seorang dosen untuk mata kuliah tertentu, misalnya seorang mahasiswa sastra Indonesia yang diwajibkan membaca buku 50 judul berbeda selama berlangsungnya mata kuliah itu, maka penugasan itu hanya berlaku selama mata kuliah itu ada. Artinya hanya satu semester, setelah itu hilang. Semisal lagi jika penugasan itu diberikan oleh guru atau ustadz, setelah ustadz pergi meninggalkan kita, entah karena kita sudah pindah “berguru” (dalam banyak makna) atau karena ia telah meninggalkan kita selama-lamanya, tentu penugasan-penugasan itu pun akhirnya tiada.

Dengan begitu, kesadaran berpengetahuan itu memang begitu perlu kita tanamkan dalam dada. Sehingga jika semua “penugasan” itu terhenti karena alasan-alasan tertentu, kita masih tetap berusaha untuk menghidupkannya. Kita perlu meyakini bahwa ada suatu masa yang benar-benar kita sendiri yang harus menghadapinya dan orang lain tak bisa membantu sama sekali. Kita hanya bisa berharap pada Yang Kuasa untuk memberi jalan dan pertolongan.

Namun, masih banyak muda-mudi kini yang masih ketergantungan pada “penugasan”. Meski itu sebenarnya masih baik karena kesadaran berpengetahuannya masih berjalan dan masih diberikan jalan. Kita bisa mengatakan kalau siklus intelektualnya masih berjalan. Patut disayangkan adalah jika sudah ada penugasan, namun tak dilaksanakan. Nah, itu yang parah. Kalau kondisinya demikian, maka nilai-nilai “idealisme” lembaga atau guru yang ingin mewariskan melalui penugasan yang diberikan akan terus menerus tergerus dan kian lama kian hilang. Artinya di generasi yang entah ke berapa, nilai-nilai itu bisa jadi redup dan mungkin hampir hilang. Cita-cita generasi awal mungkin juga ikut sayup-sayup meredup.

Sedikit cerita, saya pernah menemukan kondisi yang demikian. Ketika mengisi sebuah pelatihan (baca: daurah), saya merasa ada yang ganjil ketika menghadapi pesertanya. Ternyata setelah ditelusuri, ketemu juga masalahnya. Mereka sama sekali belum membaca buku-buku “penugasan” yang sebenarnya harus diselesaikan pada tahap seleksi sebelum mereka bisa masuk tahap pelatihan. Artinya selain problem pada pesertanya, ada kelalaian dari panitia atau orang yang mengawasi alur daurahnya, atau malah justru sistemnya? Saya yakin, kalau ini dibiarkan terus menerus tanpa adanya evaluasi dan pembenahan, generasi yang lahir dari pelatihan ini kian lama kian menjauh dari apa yang dicita-citakan.

Terakhir sebagai penutup, ketergantungan pada penugasan juga sebenarnya memiliki kekurangan. Kekurangannya adalah jika kita menganggap bahwa penugasan itu satu-satunya jalan yang perlu diikuti. Artinya kita tidak melihat kemungkinan jalan-jalan lain yang harus dilalui. Semestinya, setelah penugasan-penugasan itu (sembari) kita selesaikan. Kita bisa juga mencoba banyak jalan yang lain. Jika penugasannya ialah membaca 50 buku sastra selama enam bulan, bukankah selama enam bulan itu juga kita bisa menambahkan genre buku lain selain sastra? Jika penugasannya adalah membaca buku-buku yang sudah ada list-nya, bukankah kita bisa menambahkan banyak list selain dari yang sudah ada? Kira-kira begitu ilustrasinya. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *