Kerja, kerja, kerja!

Sepertinya begitulah doktrin kapitalisme menjiwai setiap lini kehidupan kita. Manusia mana yang tak akan menyangkal soal ini. Kerja itu konsekuensi logis kita hidup di dunia. Dari manusia yang percaya Tuhan sampai yang sama sekali tak percaya, mereka semua bekerja. Meski ternyata jika dicermati, tetap ada perbedaannya.

Perbedaan paling mendasar ada pada orientasi atau tujuan mereka bekerja. Orang Muslim yang taat pasti akan bekerja dengan tujuan sebagai bagian dari ibadah, sebagai bagian untuk mencapai ridho-Nya. Adapun kerja untuk mendapatkan harta yang banyak itu tujuan sampingannya. Mereka juga akan merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang diperolehnya. Mereka akan menyeimbangkan antara dunia dan akhiratnya. Jadi, di sini kita juga melihat tentang keseimbangan (tawazun). Nah, itu pembeda yang kedua.

Sementara di sisi lain, manusia-manusia yang telah tercelup sistem kapitalis akan berperilaku sebaliknya. Ia akan mengejar materi sebanyak-banyaknya, mati-matian, dan bahkan bisa jadi dengan segala cara. Dunia menjadi tujuan akhirnya. Akhirat? Kalau itu jangan ditanya.

Persoalannya, di masa industrialisasi seperti saat ini ternyata kita juga tidak bisa menghindarinya. Misalnya para karyawan pabrik atau kita lebih sering mendengar dengan istilah buruh. Perusahaan-perusahaan yang seharusnya berterimakasih kepada karyawannya karena telah menjaga produknya tetap ada dan memberikan laba yang tak sedikit, kerapkali melakukan “persekusi” terhadap karyawannya. Misalnya, dulu kita pernah mendengar kisah pilu dari ibu-ibu hamil yang tetap tak boleh ambil cuti atau libur, mereka yang harus tidur di pabrik dan tak boleh pulang atau rehat sejenak, aturan-aturan perusahaan yang sulit seperti menyempitkan waktu sholat, dan lain sebagainya. Kalau saja peristiwa-peristiwa itu tak muncul di permukaan dan viral, mungkin entah bagaimana cerita kelanjutannya.

Para buruh yang terdzolimi, jika meminjam istilah Pak Kuntowijoyo, mereka adalah kaum mustad’afin (orang-orang yang tertindas). Dari situlah kemudian kita akan berpikir, siapa yang bisa menyelamatkan dan memperbaiki keburukan sistem ini?

Jawabannya adalah kesadaran dari Sang empunya pabrik dan kekuatan aturan dari Sang empunya kuasa (pemerintah). Untuk mengatasi efek buruk cengkraman kapitalisme memang hanya bisa dilakukan melalui cara tersebut. Kalau kesadaran Sang empunya sama sekali tak bisa dibangunkan, tangan kuasa lah satu-satunya yang bisa menggerakkan. Meski di akhir-akhir ini, kita cukup sedih melihat Sang empunya kuasa justru menurunkan aturan JHT yang begitu tak adil. Kalau dua cara tersebut tak bisa dan buntu, maka kekuatan massa adalah jalan terakhir untuk bersuara dan menggerakkan aksi massa.

Kita melihat evaluasi sistem kapitalisme Barat adalah seperti itu. Yang pada akhirnya semakin diperbaiki dan dievaluasi, justru ciri kapitalisme itu akan hilang dengan sendirinya. Artinya, konsep murni kapitalisme itu memang tak cocok bagi manusia. Istilahnya mungkin tidak manusiawi. Dalam bahasa yang sering kita dengar: tidak memanusiakan manusia. Jadi, memang jargon: Kerja, kerja, kerja! sungguh kurang tepat bagi manusia itu sendiri. Kita perlu mengubah makna jargonnya. Tentu sesuai dengan prinsip kita selaku umat Muslim. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *