Ini hanya sebuah cerita kecil pada saat perjalanan mudik dari kota metropolitan yang penuh dengan hiruk-pikuk dunia kegemerlapan menuju kota pelajar yang istimewa dengan segala kenangan dan harapan. Sekian bulan lamanya meninggalkan kota tempat mendapatkan ruang belajar yang luas dinamakan dengan Halaqah. Akhirnya bisa melepas kerinduan karena tidak ingin terlalu lama di kampong halaman.
Waktu itu saya menunggu di pinggir jalur pejalan kaki dekat stasiun tugu. Duduk dengan tenang sembari makan cemilan yang dibawa. Menunggu sebuah jemputan yang tak kunjung datang di tengah malam. Tetiba fokus pada satu pandangan seorang perempuan berjilbab dengan jaket jeans birunya. Seperti menunggu seseorang yang datang saja. Hanya selang beberapa menit ia melepas jilbab dan jaket tebalnya di pinggir jalan begitu saja. Penampilan berubah drastis 180 derajat dengan pakaian yang kurang bahan, rok mini dan high heel-Nya.
Berpikir sejenak seperti wanita penghibur yang sedang menunggu klien yang akan menjemputnya. Padahal waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB. suasana sepi tanpa lalu lalang pedagang kaki lima sekitar malioboro. Sebuah mobil mercy berhenti di depan wanita tersebut dan ia masuk ke dalam seperti terburu-buru.
Menjual keimanan dengan kemaksiatan menjadi ungkapan yang cukup tepat. Menukil dari surah al-ahzab ayat 29 jika kaum wanita untuk menutup aurat ddengan jilbab untuk melindungi hamba-Nya. Kehormatan dan keselamatan diri saat beraktivitas seharusnya menjadi hal penting untuk mereka yang tidak mampu menjaga pondasi akhlakul karimah. Saat kondisi ekonomi menggerogoti lapisan hati dan pikiran, maka tidak ada yang tahu jalan apa yang akan dipilih untuk tetap bersyukur dengan jalan kegelapan sekalipun.
Fadhi QP
