Mahar Buku untuk Rachmiati

Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku aku bisa bebas,”

Kutipan ini adalah sebuah perkataan singkat dari sosok wakil presiden Moh. Hatta yang pernah mendampingi Sukarno semasa kepemimpinannya. Meskipun tidak mendampingi sampai akhir masa kepemimpinan, namun hubungan keduanya secara pribadi masih sangat dekat.

Hatta dan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, mereka adalah sepasang merpati, sepasang sahabat, dan mungkin bisa jadi sepasang saudara kembar.

Kecintaannya kepada dunia literasi membuat koleksi-koleksi Hatta masih dapat dinikmati di pojok perpustakaan pusat UGM yang bernama Hatta Corner.

Ketertarikan Hatta terhadap buku memang tidak dapat dipisahkan dari latar belakang orang tuanya yang merupakan golongan menengah ke atas.

Sejak kecil Hatta sudah mendalami berbagai buku dengan jenis dan genre yang berbeda. Bagi Hatta kecil, buku dapat membawanya kemana saja.

Saat masuk ke pemerintahan Hatta adaah figur pejabat yang jujur,berkharisma, dan memegang prinsip. Kejujurannya dalam memegang amanah yang diberikan mungkin lahir dari kecintaannya kepada bangsanya sendiri.

Tanah air yang dia perjuangkan bahkan hingga rela diasingkan ke Banda Neira membuat tawaran-tawaran fasilitas negara tidak lantas membuatnya hidup bermewah-mewah.

Kharisma yang terpancar dari sosok pribadi ini tercermin dari cara Hatta menjalani kehidupan. Bahkan ketika Hatta mengundurkan diri dari kursi Wakil Presiden Republik Indonesia, masih banyak para pejabat yang hilir mudik mengunjungi Hatta bahkan hanya untuk sekedar berdiskusi dan bertukar pikiran seputar permasalahan negara.

Prinsip yang dia pegang tidak pernah berubah, bahkan ketika banyak yang keberatan jika Hatta turun dari kursi wakil presiden. Ketua DPR, Sartono mungkin salah satu orang yang kaget bukan kepalang ketika Hatta mengirimkan surat pengunduran diri dari wakil presiden. Prinsip ini dipegang oleh Hatta karena dia merasa sudah saatnya Dwi-Tunggal bubar akibat perbedaan prinsip yang sangat jauh.

Bagi Hatta Demokrasi yang dipegang oleh Sukarno sudah jauh melenceng dan tidak sesuai prinsip dalam bernegara. Diskusi panjang tentang demokrasi terpimpin yang dibuat Sukarno berlangsung hingga dua tahun lamanya dan tidak menemukan titik terang sama sekali.

Hatta adalah pembaca yang ulung, koleksi bukunya memberikan gambaran bahwa Hatta adalah sosok yang maniak buku dan sangat mencintainya. Bagi teman-teman dekatnya, Hatta dan buku adalah sepasang kekasih.

Bahkan ketika berkuliah di Belanda, Hatta pernah dijebak dalam sebuah kencang buta dengan wanita Polandia, namun akhirnya wanita tersebut menyerah dengan Hatta.

Ketika diasingkan ke Banda Neira, Hatta juga turut membawa bukunya yang sangat banyak selama proses pengasingan. Di dalam pengasingan tersebutlah Hatta menyelesaikan bukunya yang berjudul Alam Pikiran Yunani. Buku ini bagi Hatta adalah buku yang sangat berharga, hingga ketika pasca kemerdekaan buku ini dijadikan sebagai Mahar untuk melamar Rachmiati.

Pinangannya kepada Rachmiati dilakukan ketika Indonesia memperoleh kemerdekaan. Saat itu Moh. Hatta memegang teguh prinsip bahwa tidak akan menikah sampai Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Benar nyatanya, Hatta baru melangsungkan pernikahan pasca Indonesia merdeka.

Pinangannya ini jatuh kepada Rachmiati, seorang anak dari mantan kekasihnya dahulu bernama Anni Nurdin. Pinangannya kepada Rachmiati membuat Anni kaget, bukan hanya karena yang melamar adalah mantan kekasihnya tetapi karena perbedaan usia yang sangat jauh antara Hatta dan Yuke, nama panggilan Rachmiati..

Pinangan Hatta ini akhirnya diterima ketika Sukarno membujuk Anni Nurdin dan Rachmi untuk menerima pinangan Hatta. Usia yang terpaut jauh antara Hatta dan Rachmi lebih dari 20 tahun. Bahkan Hatta lebih mirip dengan bapak dari Rachmi ketimbang suaminya. Saat itu Hatta sudah berusia 43 tahun dan Rachmi baru berusia 19 tahun, usia yang sangat jauh untuk ukuran pasangan suami istri.

Sebagai orang yang pernah menjadi kekasih Anni, Hatta masih sangat ingat betapa cantiknya Anni, seseorang yang akan menjadi ibu mertuanya. Kecantikan dan sifat-sifat Anni yang dikagumi Hatta diturunkan kepada Rachmi anaknya.

Mungkin inilah sebabnya Hatta tidak menolak ketika dicomblangkan oleh Sukarno. Kecintaannya kepada Anni mantan kekasihnya tidak bisa dihilangkan bahkan hingga bertahun-tahun lamanya. Namun, tidak pernah ada yang tahu isi dan perasaan dari Moh. Hatta.

Hatta adalah sosok yang sulit mengekpresikan rasa cinta kepada seseorang, sangat berbeda dengan sosok Sukarno yang dengan mudahnya mengekspresikan bentuk kecintaannya. Bahkan menurut penuturan Bung Kecil, Hatta dak ubah seperti “lelaki kering lagi serius”.

Ketika pernikahannya dihadiahkanlah sebagai mahar sebuah buku yang berjudul, Alam Pikiran Yunani. Sebuah judul buku dengan dua jilid yang ditulis langsung oleh Hatta semasa pengasingan di Banda Neira. Mahar ini pernah ditentang sendiri oleh Ibu Moh. Hatta karena dianggap kurang pantas untuk dijasikan mahar.

Bagi sebagian orang mungkin mahar yang diberikan Hatta sangat aneh, bagaimana mungkin seorang gadis yang asing dari pikiran-pikiran filsafat malah mendapat mahar berupa karya buku filsafat dari Moh. Hatta. Aneh, dan penuh kejutan.

Rachmi yakin bahwa mahar yang diberikan kepadanya adalah setulus-tulusnya sebuah mahar. Agaknya Rachmi memahami bahwa Hatta dan buku adalah sekeping koin yang sama dan tidak dapat dipisahkan. Jadi, ketika Hatta memberikan buku sebagai mahar pernikahannya, artinya Hatta sedang memberikan mahar terbaiknya.

Sumber: Poto Lawas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *