Bagi para budak korporat, sangat penting untuk menerapkan Work-Life balance. Tidak hanya fokus untuk kerja saja dalam 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Aturan pemerintah pun sudah jelas untuk jam kerja yang hanya memperbolehkan 40 jam kerja total dalam satu pekan, namun berbeda cerita ketika memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama sebagai karyawan, karena jika tidak menduduki jabatan tertnggi ketika bekerja di perusahaan Namanya tetap karyawan bukan?
Beda dengan para pelaku bisnis yang bisa menjadi bos untuk diri sendiri, bisa libur kapan saja, bahkan jam kerjanya bisa 24 jam sehari. Orang luar yang melihatnya saja pasti melihat model bekerja tanpa kenal waktu ini sebagai ironi, namun tidak untuk mereka yang memiliki tekad tinggi. Tak ada istirahat sebelum typus menyerang, tapi prinsip ini sepertinya lebih cocok untuk mereka yang gila kerja dan hanya memikirkan jabatan serta uang.
Apapun jenis pekerjaannya tentu perlu istirahat dan tentu saja liburan diluar rutinitas, self reward kalua dibahasakan dengan kata yang popular saat ini. Memberi hadiah kepada diri sendiri yang sudah bekerja keras tanpa kenal lelah, sekadar rebahan seharian atau liburan diluar pulau sudah cukup untuk melepas penat tidak memikirkan pekerjaan memberikan efek dopamin yang lebih bisa memberi kebahagiaan dan bisa men-charge kembali semangat bekerja.
Namun apa yang membuat negara semaju Amerika, Korea, dan Jepang sehingga banyak kasus bunuh diri karena frustasi bekerja? Jika jawabannya adalah eksploitasi pekerja, itu tidak mungkin karena negara maju pasti didukung dengan birokrasi serta manajemen yang baik, dimana hak-hak pekerja seharusnya tertunaikan secara lengkap.
Ada satu hal yang tidak ada pada diri mereka namun ada pada kebanyakan pekerja di Indonesia yang sebagian besar adalah muslim, yaitu konsep keimanan yang tertanam dalam diri. Ada banyak penelitian psikologi yang menyebutkan bahwa konsep pembersihan jiwa atau biasa kita kenal dengan tazkiyatun nafs benar-benar menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa yang kasat mata. Minimal dengan dzikir dan taubat, maka diri menjadi tenang dengan mengingat Sang Pencipta. Ibadah menjadi hal dasar seorang muslim, bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan juga sarana untuk beribadah, istirahat adalah hak diri yang harus ditunaikan; semua hal tersebut biasa kita kenal dengan konsep Tawazun atau diartikan dengan keseimbangan. Apalagi kita sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menerapkan tawazun dalam kehidupan kita.
Beginilah seharusnya konsep Work-Life Balance nya seorang muslim, tidak hanya mengingat dunia, bekerja tidak hanya untuk kekayaan semata, namun ada konsep ibadah di dalamnya. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan, dan hidup tidak hanya untuk liburan. Menjadi seorang muslim berarti kita memiliki konsep dasar dalam menjalani hidup, pun dalam bekerja ada sudut pandang islam disana. Betapa beruntungnya kita sebagai seorang muslim, pedoman hidup sudah tersedia secara lengkap dan sempurna. Mari bersyukur dengan terus belajar dengan benar.
yuganafs 24/03/2022
