Sudah hampir beberapa bulan terakhir saya kurang menikmati buku. Mungkin karena pikiran yang sedang travelling kemana-mana ditambah gawai yang lebih sering berada di genggaman karena berhubungan dengan kerjaan. Baru akhir-akhir ini saya menikmati buku (lagi).
Lembar-lembar mulai dihabiskan. Mencoba lebih banyak lagi. Ini mengingatkan pada masa mahasiswa lalu, yang mana membaca buku itu terasa begitu nikmat. Jika sehari tak membaca, seperti ada yang kurang. Bagi saya pribadi, jika tak banyak membaca, maka bisa dipastikan sulit juga untuk menulis. Sekali lagi, ini pengalaman pribadi. Jadi, jika ada yang bertanya, “Mengapa ide yang ditulis ada saja?” Jawaban sederhananya, “Saya banyak mendapatkan sesuatu yang baru dari membaca.”
Memang di banyak kesempatan saya memaknai “membaca” tak hanya membaca buku, tetapi juga peristiwa, realitas, fakta sekitar, dan semacamnya. Kombinasi-kombinasi pengetahuan yang mengitari ini akan sangat membantu kita dalam mengeksplorasi tulisan.
Tanpa pengetahuan yang memadai, kita akan benar-benar sulit untuk menulis. Sederhana saja, jika kita menulis catatan harian atau pribadi merasa mudah, itu bisa dipastikan karena kita memiliki pengetahuan tentangnya, yakni bahwa pada faktanya kita sendiri yang mengalaminya. Pengalaman itulah yang menjadi pengetahuan kita untuk menuliskan catatan tersebut.
Menikmati buku adalah salah satu cara agar ide-ide tereksplorasi. Agar ide-ide dan bermacam-macam informasi saling berkelindan di kepala. Di tengah sibuknya pekerjaan, meluangkan waktu adalah solusi tepat untuk menikmati buku. Misalnya saja satu jam setiap harinya, bisa di sore hari, malam hari, atau terserah saja. Toh, kita sendiri yang paling mengetahui tentang diri dan waktu yang kita gunakan. Semakin banyak buku yang dibaca juga akan semakin menambah banyaknya perspektif yang kita miliki mengenai suatu informasi (yang sama). Kita bisa melihat banyak sudut pandang.
Mendiskusikan atau mengkaji adalah cara kedua setelah membaca. Kalau dulu di masa mahasiswa, saya dan kawan-kawan seringkali mendiskusikan buku yang telah kita baca, termasuk kepada orang yang ahli mengenai topik yang dibahas. Mengikuti suatu kajian, seminar, atau semacamnya juga bisa menjadi bagian dari eksplorasi atau pendalaman dari buku yang sedang dibaca. Misalnya kita sedang membaca buku Muqaddimah Ibnu Khaldun, lalu untuk mendalaminya lagi maka alangkah baiknya kita bisa mengikuti kajian-kajian yang membahas mengenainya. Kini, mungkin terlalu mudah untuk mencari. Rekaman kajian atau seminar di youtube mengenai suatu pemikiran atau suatu buku tersebar begitu banyak. Jikalau tak menemukan webinar secara langsungnya, tinggal buka saja di situ.
Kemudahan-kemudahan yang begitu banyak ini jangan disia-siakan. Jika kita bukan orang yang punya waktu banyak menuntut ilmu layaknya seorang yang fokus dalam dunia pendidikan dikarenakan pekerjaan, ternyata alternatif-alternatif lain masih tersedia.
Nah, kalau sampai sekarang kita punya keinginan menulis tetapi masih bingung apa yang akan ditulis. Membaca bisa membantu kita menemukan inspirasinya. Meksi itu mungkin hanya salah satu cara dan salah satu sumur yang bisa kita timba. Di luar itu, masih banyak sumur-sumur yang lain. Tapi jangan pernah lupakan ini: membaca itu memang menulis. Kalau mau dibalik ya silakan. []
Viki Adi Nugroho
