Mengambil Hikmah dari Berkendara

Pernah mendengar istilah alon-alon asal kelakon?. Mungkin itu yang saya rasakan ketika mengendarai motor smash. Motor dengan tenaga 115cc keluaran tahun 2004 ini sudah hampir setahun belakangan menemani saya menjelajahi kota Bekasi.  Memang di usianya yang kini menginjak 17 tahun untuk ukuran motor, saya kira sudah tak muda lagi. Walau begitu, saat ini ia masih menemani saya berjuang pulang pergi dari kosant ke pasar lalu ke kampus.

Berkendara dengan motor smash di era yang serba cepat seperti saat ini nyatanya tak mudah.  Pengendara dituntut untuk bersabar menghadapi perjalanan yang disampingnya banyak pengendara lain yang lebih cepat, namun pada akhirnya selambat-lambatnya berkendara akan sampai ke tujuan juga. “Asal sabar nanti juga sampai” ujar dalam hati.

Kesabaran memanglah kunci dalam menjalani hidup ini. Sama halnya seperti tadi ketika kita berkendara, walaupun motor tak cepat namun bila dikendarai dengan rasa sabar maka yang timbul adalah selamat. Maka jangan heran, kalau banyak terjadi “laka lantas” yang disebabkan karena tidak sabarnya pengendara dalam berkendara. Begitupun ilmu sabar ini kalau kita terapkan dalam aktivitas sehari-hari tentu akan menjadikan diri kita tenang dan selamat bahkan bisa menjadi asbab hidayah. Seperti halnya dalam kisah Rasulullah Saw.

Suatu kali Rasulullah Saw mendatangi seorang yahudi pengemis buta di pasar, setiap hari ia pun mencaci maki nabi, namun apa balasan Nabi? Beliau tidak marah namun justru menyuapi makanan setiap hari tanpa mempedulikan cacian itu. Ketika Nabi Saw wafat dan terdengar kabar sampai kepada seorang yang buta tadi kemudian dia diberitahu beliau lah yang menyuapinya tiap kali makan, akhirnya seorang pengemis buta tadi pun menangis dan bersyahadat.

Sepenggal kisah kesabaran nabi tadi mungkin sudah mewakili dari banyak kisah kesabaran beliau. Kisah tadi bukan hanya untuk kita baca namun haruslah kita teladani dan praktikan dalam kehidupan sehari-sehari. Seperti halnya perintah Allah dalam Al-Qur’an kita dituntut untuk menjadikan shalat dan sabar sebagai sandaran kehidupan. Dengan shalat kita mensuasanakan diri dan hati pada ketaatan sehinga ketika kita bersabar tidak menjadi beban dan stres karena menjalani kesabaran dengan suasana iman yang baik. Maka sudah menjadi kewajiban kita menjaga paket keselamatan ini yakni “shalat dan sabar”.

Meskipun dunia ini serba cepat, bukan berati kita terbawa arus global begitu saja. Kesabaran lah yang menjadikan kita bisa bertahan dalam arus zaman. Sikap sabar ini layaknya pakaian yang melekat dalam diri kita, ia dibawa kemana-mana setiap hari. Bila pakaian itu dilepas timbulah kekacauan dalam diri dan susah untuk bangkit kembali.

Pada akhirnya seorang muslim, dituntut untuk terus besabar. Sabar akan menjalani perintah dan larangan-Nya. Sabar dalam belajar dan berproses. Sabar dalam mencerna informasi dan perkembangan zaman. Dan sabar menghadapi situasi lainnya . Rasa sabar itu harus selalu hadir setiap waktu sehingga keputusan-keputusan yang diambil tidak lagi menghasilkan penyesalan dikemudian hari. []

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *