Seperti biasa, siklus kehidupan akan naik turun. Terkadang di atas dan terkadang di bawah. Dulu berbicara hal-hal besar dan luas, sekarang berbicara tentang hal yang memang benar-benar dialami dalam kehidupan.
Saat membaca secara singkat sejarah peradaban umat Islam terutama pada masa-masa keemasannya, di situlah timbul pikiran-pikiran untuk mengembalikan masa keemasan umat yang pernah dialami pada masa lampau. Akan tetapi lambat laun pikiran tersebut kian meredup. Hingga pada suatu tahap saya menyadari bahwa ada hal yang lebih penting untuk diperbaiki sebelum memperbaiki keadaan umat. Yaitu memperbaiki keadaan diri.
Mengenali diri sendiri adalah hal penting yang harus dilakukan, terutama untuk kalangan muda seperti saya. Bahkan ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Hancurlah seseorang yang tidak tahu akan batasan dirinya”. Batasan diri bermakna kemampuan diri. Artinya seseorang haruslah tahu kemampuan dirinya.
Mengetahui apa hakikat hidup ini, apa potensi dirinya, apa yang harus dia perbuat, dan untuk apa selama ini ia berbuat. Hal itu dapat dilakukan dengan selalu menanyakan diri kepada diri kita sendiri. Merenung walau sejenak untuk memperbaiki diri agar perjalanan ke depan semakin baik dan tidak terjatuh pada kesalahan yang sama.
Pada akhirnya, menanyai diri adalah suatu hal yang harus tetap dilakukan setiap saat. Dalam keadaan apa pun seyogyanya selalu menanyakan apa yang telah diperbuat dan untuk apa berbuat. Dengan mengetahui hakikat diri akan mengarahkan seseorang bagaimana ia harus berbuat dan apa yang harus ia perbuat.
Maka, agaknya masih terlihat kurang dan ganjal, jika yang selama ini selalu bersemangat untuk mengembalikan kejayaan umat akan tetapi di satu sisi tidak paham akan hakikat dirinya sendiri.
[Muhammad Rasyid Ridho]
