Tanpa disadari manusia sering mengeluh dengan keadaan yang dialami pada kondisi yang tidak diharapkannya. Pekerjaan kantor yang mulai menumpuk, Menyelesaikan urusan rumah tangga, Tugas kuliah yang sudah deadline dari dosen, hingga terpaksa membolos sekolah karena malas mengikuti pelajaran dari guru yang tidak disukainya. Semua itu hadir tanpa kita sadari. Pastinya mulai depresi dong. Jiwa mulai meronta-ronta. Fikiran menjadi tidak beraturan bagaikan masalah tanpa solusi. Kalau mengatasi masalah tanpa masalah bisa kalian temukan di gerai pegadaian (ini bukan promosi built-in sebuah unit usaha.hehehe).
Masalah secara etimologi merupakan sebuah pertentangan apa yang seharusnya menjadi harapan diri ini dengan dunia nyata untuk dihadapi secara lapang dada. Seandainya manusia tidak mampu membendung masalah tersebut, dampak psikologisnya adalah putus asa. putus asa menjadi hal lumrah. cara menanggapinya pun setiap orang berbeda.
Putus asa jalannya setan. setan sangat gembira jikalau umatnya mendapat kesulitan hidup dalam dirinya. Bunuh diri solusi terakhir untuk mereka yang lemah iman dan akhlak. Kita tidak sedang berlomba untuk menjadi manusia yang kuat. Kita hanya elemen tanah hidup yang belajar bagaimana nilai putus asa diubah dengan kata Get up. Bangkit dan terus bangkit. Bangkit dari keterpurukan. Bangkit dari bisikan yang tidak berfaedah. Pejamkan mata dan katakan dalam hati Saya bisa melawan keburukan. Saya bisa menjadi orang yang lebih baik daripada hari ini.
Start with grateful. Kala manusia harus memutuskan berhenti dengan hidupnya. Pikirkan dengan akal sehat bahwa hidup tidak sesederhana membuka kuaci, lalu sampahnya dibuang begitu saja. Hikmah apa yang bisa diambil dari setiap langkah hidup. Fight till the end and never give up.
Fadhi Saputra
Bantul, 4 Januari 2022
