Ramadan tinggal menghitung hari. Salah satu syiar yang paling gencar dibagikan di mana-mana adalah membaca al-Qur’an. Dari yang khatam satu kali hingga yang berkali-kali.
Sebagai orang Muslim, pernah saya berpikir kapan bisa mengerti, minimal tahu apa saja isi atau kandungan dari semua ayat al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci kita. Kan agak lucu ya kalau selama hidup tidak pernah membaca apa isi dan maksud dari ayat-ayat suci yang menjadi pedoman hidup kita sendiri. Kalau mengkhatamkan al-Qur’an itu kan sudah biasa, apalagi seperti momentum Ramadan yang disebut tadi.
Oleh karena itu, sebagai orang awam, beberapa tahun silam saya membeli terjemah tafsir ringkas. Untuk apa? Minimal sekali seumur hidup saya sudah membaca maksud atau tafsir ringkas dari ayat-ayat Tuhan. Walau sampai sekarang, belum selesai juga. Malahan belum banyak yang dibaca. Tapi saya ingin mencoba membacanya, walau sedikit demi sedikit.
Waktu itu saya membeli Tafsir al-Wasith karya Syaikh Wahbah az-Zuhaili. Ada tiga jilid. Belinya pun dengan harga murah meriah karena sedang di promo oleh penerbitnya. Kalau tak salah promo penghabisan (karena sekarang sudah tidak ada lagi). Tafsir tersebut adalah penjelasan ringkas beliau mengenai ayat-ayat al-Qur’an dalam suatu kajian rutin radio atau televisi, mohon maaf saya agak lupa. Informasi pastinya ada di lembar kata pengantar.
Jika membaca Tafsir Ibnu Katsir kok agak loading atau pusing karena bingung, coba turunkan dulu. Coba baca dulu tafsir-tafsir ringkas atau tafsir yang memang diperuntukkan untuk “pemula” atau orang awam. Tafsir al-Wasith adalah salah satunya. Sayangnya, terjemah tafsir tersebut sudah lama tiada. Namun jangan khawatir, masih ada beberapa tafsir rekomendasi untuk para awam. Misalnya seperti Tafsir Muyassar (terbitan Darul Haq). Ada pula ringkasan Tafsir Ibnu Katsir yang hanya satu jilid terbitan Jabal. Ada juga yang begitu terkenal di kalangan pesantren dan kerapkali terlupakan oleh masyarakat urban atau aktivis, yakni Tafsir Jalalain.
Saya pribadi memang baru menyisir sedikit demi sedikit al-Wasith, belum yang lain termasuk yang disebut tadi. Judul-judul yang saya sebutkan di atas adalah rekomendasi-rekomendasi yang saya dengar dari para alim.
Dipikir-pikir, bukankah logikanya benar? Masa selama kita hidup di dunia, yang hanya sekali, tidak terulang lagi, kok sama sekali tak pernah—minimal sekali berniat—untuk membaca maksud atau kandungan isi dari kitab petunjuk kita sendiri? []
Viki Adi N
