Pada suatu hari Akhmad yang sudah merantau hampir 1 tahun ingin pulang ke tanah kelahirannya dengan menaiki kereta dari kota A ke kota D. Jaraknya lumayan jauh berkisar kurang lebih 300km. Karena pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah, ia berjanji ingin menikmati perjalanan itu dengan melihat pemandangannya sepanjang jalan. Akhirnya ia menaiki kereta Argobromo dari stasiun kota A dengan semangat yang menggebu-gebu menuju kota D. Pada sepertiga perjalanan ternyata kantuknya datang, dan ia tertidur pulas. Setelah terbangun ternyata kereta telah berhenti di stasiun akhir kota tujuan yakni kota D. Dengan penuh penyesalan ia turun dari kereta. Keinginan menikmati pemandangan sirna sudah karena tertidur. Ia harus menunggu dua minggu lagi saat keberangkatannya ke kota. Itupun kalau mendapat tiket.
Barangkali kisah fiksi Akhmad tadi hanya sebatas pengandaian, akan tetapi kalo kita hubungkan dengan momentum yang akan datang yakni bulan suci ramadhan mungkin bisa kita ambil hikmahnya.
Tentu bagi seorang muslim momentum yang di tunggu-tunggu segera tiba. Momentum ini datang setiap tahun. Tapi sudahkah kita memaksimalkannya? Jangan-jangan momentum ini hanya lewat tanpa kita ambil hikmah dan kekhusuannya. Kita selalu berdoa mudah-mudahan Allah swt berikan hidayah dan keistiqomahan agar bisa mengambil momentum ini dengan baik.
Beruntunglah orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita dan penuh persiapan. Persiapan ini agar kita fokus. Jangan sampai kita seperti Akhmad tadi yang berjanji akan menikmati perjalanan justru ia tertidur pulas.
Ramadhan bukan hanya sekedar kegiatan tahunan yang memiliki suasana tersendiri. Seperti ramainya iklan-iklan bertema ramadhan, kegiatan bukber dan reunian lebaran. Mari kita melihat apa sih esensi dari ramadhan ini? Apakah selama ini kita telah menjalankannya dengan baik?.
Coba anda bertanya pada diri sendiri, begitupun juga saya dalam hal ini. Dari banyaknya bulan ramadhan yang telah kita lewati, masihkah ada penyesalan karena tidak memaksimalkannya? Ataupun mungkin momentum perbaikan diri ini tidak kita ambil.
Banyak yang mengatakan bahwa ramadhan bisa di sebut bulan untuk mereparasi jiwa dan keimanan. Dimana setelah sebelas bulan menjalani kehidupan dengan penuh kelalaian. Pada bulan ramadhan ini kita di ingatkan kembali untuk menjadi hamba yang khusu’. Ramadhan ini mempertegas status kita sebagai hamba. Dan akan terlihat siapa-siapa saja yang memang fasik dan tidak menjalankan perintah ini.
Coba anda bayangkan jika ramadhan ini adalah ramadhan terakhir dalam hidup anda. Apakah akan tetap sama sambutan kita terhadapnya. Bukankah Islam mengajarkan untuk menjalankan ibadah dengan khusu’, dalam hal sholat misalnya nabi mengatakan sholatlah seolah-seolah mati besok pagi. Begitupun dalam menjalankan ibadah puasa bulan ramadhan. Memang benar siapa yang menjamin esok pagi kita masih hidup. Dan siapa yang menjamin tahun depan kita bertemu bulan ramadhan lagi.
Pada perkara dunia saja kita banyak penyesalan. Seperti halnya Akhmad tadi dia menyesal hanya karena tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Bagaimana jadinya kalau itu adalah perkara akhirat? Terlebih momentum bulan ramadhan ini. Tentu seharusnya persiapannya lebih dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Setiap tahun sekali bulan ini datang. Tapi berapa banyak yang kelakuannya tetap sama dan tak kunjung berubah, mungkin termasuk saya pribadi. Dan tulisan ini pun saya tulis sebagai pengingat diri akan kesadaran pentingnya momentum ramadhan ini. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk dan ridha-Nya. Sehingga dalam mengambil momentum ramadhan ini kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan lebih-lebih untuk bangsa Indonesia, seharusnya ramadhan ini tidak hanya momentum memperbaiki ekonomi dari meningkatnya supply dan demand kebutuhan puasa dan lebaran, akan tetapi juga sebagai momentum perbaikan moral bangsa ke arah yang lebih baik. []
Akhmad Suhrowardi
