“Mas, bagaimana pendapatmu soal melukis buku?”
Saya ketawa. Sebagai orang seni rupa, saya suka dengan lukisan. Saya suka dengan melukis. Apalagi jika menggunakan cat minyak di atas canvas yang premium. Wah, dahsyat!
Tapi bagaimana rasanya jika melukis di atas buku? Bagaimana rasanya melukis di lawan sisi punggung buku? Bagaimana rasanya melukis di sisi-sisi buku? Entahlah, saya belum pernah melakukannya.
Saya masih merasa aneh saja jika melihat para booklovers atau para bookstagram menyapu kuasnya di buku-buku mereka. Apa ada yang salah? Tidak ada, itu juga buku mereka. Hanya saja saya merasa aneh. Aneh saja!
Sayangnya, buku tidak bisa bicara. Buku tidak bisa menyatakan kebahagiaannya. Apakah dengan dilukis ia menjadi bahagia? Kalau buku bisa berbicara, sepertinya mereka lebih bahagia jika dijamah, jika dibaca. Titik. Selesai.
Untuk keperluan corat-coret di buku, saya juga termasuk orang yang masih agak risih. Aneh saja! Kecuali hanya sekadar membubuhkan nama, tanda tangan, dan tahun kapan buku itu dibeli. Dulu saya melakukan kegiatan ini setelah membeli buku dan meng-unboxing-nya. Saya catat di lembar kertas setelah sampul.
Kalau ingin menandai yang penting-penting? Saya lebih sering menempelkan sticky notes di lembar yang ada point penting, lalu saya tulis di situ. Artinya, saya tetap menjaga buku itu bersih dari coretan karena yang dicorat-coret adalah sticky notes-nya. Pernah juga menandai dengan papan-papan penunjuk yang bisa ditempel, berbahan plastik, warna-warni, transparan. Mohon maaf saya lupa namanya apa. Sebisa mungkin saya akan mengusahakan agar buku saya tetap seperti semula. Tanpa coretan, tanpa goresan. Tapi itu dulu.
Sekarang? Sekarang saya jarang menandai. Baca ya baca saja. Kalau tetiba saya butuh informasi tertentu di buku yang pernah dibaca. Ya, sudah, saya buka lagi lembar-lembarnya sembari mengingat-ingat di mana posisinya. Hitung-hitung membuka kembali memori silam. Agak lama memang, mengingat daya hafalan saya itu rendah pake banget. Meski hafalan saya rendah, jangan salah ya, saya pernah juara 1 rangking paralel ketika SMA. Itu loh, juara 1 dari semua kelas IPA berdasarkan nilai rapor (sombong amat!).
Begitulah saya merawat buku. Tak terlalu suka dengan corat-coret. Mungkin karena saya pernah membaca buku yang berjudul Etika Kesarjanaan Muslim karya Franz Rosenthal. Di sana, kita akan melihat penghargaan terhadap buku yang luar biasa, yang terkadang di luar nurul.
Namun, sekali lagi, itu pendapat dan sikap saya. Bagi kalian yang ingin mencorat-coret buku, ingin melukis buku, atau apa pun itu, silakan. Silakan saja. Toh, itu buku kalian. Lakukan sesuka hati kalian. []
Viki Adi N
