Sebagian kita mungkin terlalu menganggap sepele soal indah, soal keindahan. Itu bukan sesuatu yang primer, tak penting-penting amat. Misalnya tempat tinggal kita. Tak perlu indah, yang penting bisa untuk bernaung. Jadi, nilai fungsional jauh lebih penting.
Tapi, agaknya berbeda bagi sebagian yang lain. Ada yang agak risih jika sesuatu tanpa disertainya. Misalnya sebagian kalangan penyuka buku. Mereka tak ingin bukunya tergeletak begitu saja. Mereka ingin menata sedemikian rupa sehingga tampak indah. Men-display layaknya perpustakaan klasik hingga yang modern.
Ada yang menekankan pada sisi fungsional, tetapi ada juga yang ingin tetap menyertakannya. Itulah mengapa akhirnya keindahan jadi seolah tak penting-penting amat.
Namun ketahuilah, gara-gara keindahan pula, orang bisa berlagak sombong. Memamerkan kecantikan hingga harta benda yang dipunya. Tak hanya soal sikap jumawa, keindahan juga akhirnya bisa membuat seorang laki-laki atau perempuan berselingkuh. Matanya tak bisa berkedip. Kedudukan juga menjadi barang incaran lainnya gara-gara soal ini. Tak segan-segan meski harus mengorbankan segala cara untuk ditempuh.
Meski begitu, keindahan juga bisa menambah kerinduan dan kehangatan bagi sebagian manusia. Ketika seorang masuk ke tempat ibadah, ia melihatnya begitu indah, terpesona, lalu ia memanjatkan rasa syukur kepada-Nya. Ia masih diberi kesempatan untuk terus beribadah. Memang, tetap ada sebagian yang lebih menonjolkan pada sisi fungsionalnya tanpa perlu memperhatikan satu sisi ini.
Jika melihat foto-foto bangunan masjid peninggalan Kerajaan Islam, pasti kita akan dibuat kagum dengan keindahannya. Sebut saja Masjid Hagia Sophia. Tak kan ada yang menyangkal soal keindahan interior bangunan tersebut.
Pada akhirnya, keindahan akan menemukan tempat yang disebut benar jika dipagari dengan pandangan hidup yang benar. []
Viki Adi N
