Sekitar tahun 2013/2014, saat itu masih menjadi mahasiswa unyu-unyu di kampus pada tahun pertama. Saya sempat dikagetkan dengan pernyataan seorang teman dari jurusan Sastra Nusantara (Jawa). Ia sempat berkata, “Dengan jurusanku saat ini, aku merasa nggak bisa berkontribusi banyak untuk agamaku.” Saya masih diam. Kemudian ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Mungkin dengan jurusan lain bisa ini itu, bisa punya sumbangsih yang besar untuk agama ini. Tapi dengan jurusanku saat ini bisa apa? Bagaimana ya, aku jadi seperti kehilangan sesuatu dan ragu-ragu untuk menjalaninya.”
Saya anak 18 tahun dan masih menjadi mahasiswa sains yang setiap harinya kepala ini sudah dipenuhi dengan kuliah, praktikum, laporan, dan tugas lainnya, saat itu hanya bisa diam. Jangankan bertanya ini-itu, untuk mencerna penyataannya yang demikian saja masih loading, masih belum bisa memahami sepenuhnya maksud dari yang ia katakan.
Saya tidak tahu apa yang sedang ia hadapi, apa yang sedang ia lalui, apa yang kemudian membuatnya berpikir demikian. Saya tidak tahu hal apa yang sudah “mengecilkan hatinya” sedemikian rupa. Namun, saat itu saya tetap ingin menjadi pendengar yang baik meski belum bisa memberi tanggapan atau solusi apa pun untuknya. Mendengarkan keluh kesahnya, resah gelisahnya, dan segala keragu-raguan yang menghinggapi dirinya saat itu.
Sekian tahun mendatang, pada tahun ketiga akhirnya saya beralih menjadi mahasiswa Sastra Indonesia. Saya sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi karena kami berbeda kampus, walaupun sebenernya hanya bersebelahan saja. Loh, teman yang sanksi dengan jurusannya kok malah saya yang pindah? Oh itu beda cerita. Hahaha.
Suatu ketika saya mengikuti sebuah kajian (lupa materinya tentang apa). Tapi di tengah-tengah kajian tersebut, sang pemateri menyampaikan tentang urutan menuntut ilmu bagi seorang Muslim. Urutan ilmu-ilmu apa saja yang seharusnya lebih dulu dipelajari sebelum ilmu-ilmu yang lain. Misal, ilmu al-Qur’an, Hadits, tafsir, dan lain sebagainya. Itu adalah fondasi-fondasi ilmu agama yang idealnya sudah lebih dahulu dipelajari oleh seorang Muslim sebelum ilmu-ilmu yang lain (sebut saja ilmu-ilmu duniawi). Ada yang salah dengan disampaikan? Tidak. Namun, menjadi tidak etis ketika mengecilkan ilmu yang lain. Beliau tidak berhenti pada penjelasan urutan-urutan ilmu itu saja. Kalimat terakhir yang tidak terpikirkan oleh saya namun begitu saja terlontar dari lisan beliau. “Apalagi jurusan sastra, itu mah belakangan, jauhlah dari prioritas.”
Sebagai orang yang sedang menggeluti bidang sastra saat itu, sedikit-banyak saya merasa tertohok dengan kalimat beliau. Mendengar hal itu bukan lantas kemudian berpikir, “Apa yang kupelajari saat ini tidak penting untuk agamaku?” namun yang langsung terlintas dalam benak adalah “Kok begitu? Berbicara seperti tak ada etika.” Padahal yang hadir di sana adalah mahasiswa dari berbagai macam jurusan dan prodi. Tidakkah ada diksi-diksi lain yang lebih hangat?
Betul apa yang beliau sampaikan tentang prioritas ilmu. Namun, tidak semua kondisi bisa disamaratakan. Beruntung orang yang memang sedari kecil sudah dibentuk sedemikian ideal oleh keluarganya. Tapi tidak semua orang mendapatkan hal yang sama.
Bukankah sastra terindah adalah al-Qur’an? Yang sebagian besar isinya adalah cerita dan kisah. Sebagian ulama kita juga adalah sastrawan. Bukankah buku-buku yang pernah diberantas oleh rezim pemerintah―karena isinya mayoritas adalah bentuk protes kepada pemerintah dan dikhawatirkan bisa membangkitkan masyarakat―adalah karya-karya sastra? Mungkin beliau lupa. Tak apa.
Kembali teringat seorang teman yang merasa bahwa apa yang sedang ia geluti (sastra dan kebudayaan Jawa) itu tak bisa memberikan kontribusi untuk agamanya. Apakah sebelumnya ia bertemu dengan orang-orang semacam “pemateri” yang diceritakan di atas hingga cukup memorak-porandakan hatinya? Mengacaukan pendiriannya? Ia yang saat itu jiwa mudanya sedang bergelora. Mungkin juga dalam fase usia mencari jati diri. Semangat militansi meledak-meledak untuk dakwah dan Islam.
Namun, harus dipatahkan dengan pernyataan yang demikian mengecilkan hatinya. Hal itu bukan diungkapkan oleh teman sebaya atau teman sepermainannya, tapi oleh seorang tokoh yang dihormati dan disegani.
Jika ditelaah, kebudayaan Jawa penuh dengan filosofi, perlambang, dan simbol-simbol yang juga erat kaitannya dengan keagamaan/kepercayaan. Bukankah akan sangat terasa kebermanfaatan dan Islam itu sendiri itu ketika bisa menyentuh sampai ke akar rumput yang mungkin saja tak pernah tersentuh oleh “orang-orang mimbar” itu. Biarlah mereka yang di mimbar menunaikan tugasnya, dan orang-orang lapangan “bekerja” sesuai porsinya. Mengapa tak saling bersinergi saja?
Lagi-lagi kita diingatkan tentang lisan. Ungkapan “Orang yang banyak bicara justru yang banyak salahnya” memang betul, maka dari itu harus sangat berhati-hati menjaga lisan. Lisan tidak hanya bisa memotivasi namun juga bisa mengacaukan ketenteraman hati. Lihatlah di mana tempatmu berbicara, siapa lawan bicaramu, dan siapa saja pendengarmu.
Untuk siapa pun kamu yang mungkin pernah mengalami hal serupa, atau justru sedang mengalaminya saat ini. Banyak nasihat-nasihat yang mesti kita dengar namun ada juga suara sumbang yang tak perlu dihiraukan. Apa pun yang sedang digeluti saat ini, selama kamu suka, tidak merasa terlalu keberatan dan kesusahan, merasa mampu mengatasinya, dan tetap berada pada koridor yang lurus maka teruslah berjalan. Go ahead!!! Hingga kautemui jalan kemenangan itu.
Ilmu yang bermanfaat untuk syiar agama ataupun menerapkan prinsip agama (Islam) untuk ilmu yang dimiliki, keduanya sama baiknya. Ilmu Allah itu luas, hanya saja terkadang manusia suka membuat sekat. Bukankah semua ilmu itu pada akhirnya akan bermuara pada tatanan agama (Islam)?
Yuyun WJ
Nggir Kali Progo
5 Agustus 2023
