Di era revolusi industri 4.0 kini dunia maya berkembang sangat pesat. Dari aspek ekonomi; munculnya uang elektronik hingga judi online. Dari aspek sosial; media sosial hingga tinder. Dari aspek hiburan; mulai dari youtube sampai game online. Dan masih banyak aspek lainnya yang juga dapat di akses melalui jaringan internet.
Satu hal yang disoroti dalam tulisan ini, yaitu aspek sosial terutama medianya. Hadirnya gawai pintar dan perubahan kebiasaan masyarakat membuat kita semua harus bisa mengikuti perkembangan zaman, salah satunya adalah digitalisasi. Ditambah lagi keadaan wabah sekarang ini, mau tak mau semuanya harus beradaptasi.
Sekolah dari rumah melalui daring, semua kalangan harus bisa menggunakan gawai pintar dan tentu saja memiliki gawai tersebut. Kita lewati dulu pembahasan ketimpangan ekonomi yang ada di masyarakat Indonesia. Bagi anak sekolah menengah atas maupun usia mahasiswa sudah bisa kita sebut baligh atau remaja menuju dewasa, yang berarti mereka semua sudah memiliki akal yang mapan untuk membedakan benar dan salah; minimalnya seperti itu. Namun yang menjadi masalah adalah anak sekolah menengah pertama bahkan TK yang harus sekolah daring, bagi orang tua yang sibuk, tentu tak bisa mendampingi sekolah daring ananda, yang hanya menyiapkan perangkat lalu ditinggal bekerja. Ini merupakan suatu tindakan yang bisa dikatakan berbahaya untuk tumbuh kembangnya. Ketika anak seusia mereka sudah pandai mengoperasikan gawai dan mengenal dunia maya, saat bosan di rumah saja mereka akan lari kesana sebagai tempat hiburan.
Sudah bisa terbayangkan dengan jelas bukan, ketika anak TK, SD hingga SMP memasuki dunia maya, di TikTok, Facebook, maupun Instagram. Apapun yang sedang viral di media sosial anak-anak selalu mengikuti dan mencobanya, karena fitrah anak adalah peniru yang ulung. Didukung penuh dengan ketidakhadiran orang tua atau orang dewasa untuk mendampinginya memakai media sosial di gawainya.
Namun tak hanya anak-anak yang harus dipantau penggunaan media sosialnya, bahkan orang dewasa juga. Mari kita sedikit kembali ke masa lalu, pembaca sekalian pasti ingat kasus dr. Lois yang diberitakan beberapa waktu lalu. Bahkan dia bisa tampil di media nasional dan paling mudah di akses oleh masyarakat. Ya benar, dia diundang ke salah satu acara di stasiun televisi terkemuka. Dia mengaku sebagai dokter di media sosialnya, tapi tak seperti dokter kebanyakan bahkan sebagian besar; atau bisa kita sebut semua pendapatnya dibantah oleh dokter yang tergabung dengan Ikatan Dokter Indonesia. Ketika diperiksa STR-nya ternyata sudah lama tidak aktif sehingga semua pendapat yang dia lontarkan tidak valid untuk sekelas seorang dokter. Karena kemunculannya di stasiun TV maka dia semakin dikenal masyarakat, dan animo masyarakat seperti biasa sangat besar untuk sesuatu yang viral. Banyak sekali pengikutnya di media sosial bahkan terang-terangan membela sesuatu yang salah.
Fenomena ini bisa terjadi karena di media sosial tidak ada penyaringan pengguna, siapapun anda, siapapun saya itu tidak berpengaruh dalam pembuatan akun dan menuliskan pendapat. Entah itu benar maupun salah, media sosial akan tetap mengunggah tulisan yang dibuat. Tidak peduli apakah dia dokter asli atau gadungan, semua bisa menjadi siapa saja di dunia maya dan semua setara. Ketika segala sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggu saja kehancurannya. Sama seperti sistem demokrasi yang ada di negara kita, semua orang bisa memilih, semua orang memiliki hak untuk bersuara, tidak peduli dia paham orang yang dicalonkan atau tidak. Dalam pemilu, semua orang memiliki tingkat suara yang sama, padahal banyak ahli yang seharusnya lebih berhak memiliki porsi suara yang lebih besar dalam pemilu. Namun tulisan ini sedang tidak ingin membicarakan politik terlalu jauh, hanya sebagai pembanding dunia maya dan dunia nyata yang ada sekarang ini. Sekian. []
Yuri
