Segala perbuatan dan ucapan yang terlontar dari seseorang sangat mencerminkan sejauh mana ilmu serta cara berfikirnya. Termasuk dalam salah satu kegiatan bermuamalah ini, yaitu bercanda. Kita sering mendengar ungkapan ini “ilmu sebelum amal dan adab sebelum ilmu” yang mana adab memiliki tingkatan lebih tinggi sebelum belajar dan bertindak.
Sejalan dengan perkembangan zaman, berbagai profesi baru dan cara mencari uang bermunculan. Termasuk menjadi komedian dan monetisasi sosial media. Menghina fisik orang, mengolok-olok aturan agama, berbohong demi konten sudah menjadi hal yang biasa dalam bahan bercanda. Seakan itu hal lumrah “ah Cuma bercanda doang”. Namun yang perlu digarisbawahi adalah, ketika banyak orang yang melakukannya bukan berarti itu hal yang benar. Apalagi dengan gelar muslim sejak lahir dengan populasi penduduk beragama islam yang dominan di negara ini, sejauh mana kita menerapkan adab dalam kehidupan sehari-hari?
Suri tauladan kita pun sudah mencontohkan bagaimana adab dalam bercanda; tidak menjadikan hal serius sebagai candaan, tidak berdusta, tidak menghina, dan tidak menjadikan agama sebagai bahan bercanda. Bahkan ada satu sahabat yang bernama Nuaiman bin ‘Amr yang paling jenaka dan sering melakukan hal kreatif bin konyol. Sampai-sampai Rasulullah bersabda “Nuaiman akan memasuki surga dengan tertawa, karena ia sering membuatku tertawa”.
Kembali lagi kita refleksikan di zaman sekarang, banyak konten “prank” yang dianggap lucu, menghina orang untuk konten, tapi mari kita lihat sebagai seorang muslim. Ketika sudut pandang islam diterapkan, seharusnya hal-hal tersebut sangat tidak lucu dan melampaui batas. Sudahkah muamalah kita sesuai adab?
Yuganafs 2/3/22
