Sudah berhari-hari perang Rusia dan Ukraina berlangsung, semua orang di jagad maya Indonesia bergemuruh. Ada yang mendukung Putin dengan Uraa-nya, ada juga yang mendukung Ukraina, ada juga yang lebih memilih menunjukkan “moralitas” untuk menghentikan peperangan. Mungkin yang ketiga adalah sikap yang dipilih pemerintah kita.
PBB, yang disebut-sebut sebagai “wasit” dunia, sama saja tak berkutik. Sekali Rusia atau China tak setuju, kebijakan untuk menghentikan perang juga hilang. Mereka ini pemegang hak veto. Mungkin itu seperti balasan ketika resolusi PBB mengenai isu Palestina yang hampir-hampir selalu dibatalkan oleh hak veto Amerika Serikat (AS). Kini, AS merasakannya sendiri.
Kalau kita perhatikan, sebenarnya Ukraina ini hanyalah “korban” (mungkin korban janji manis kali ya), perang sesungguhnya justru antara Rusia selaku suatu blok dan negara-negara Barat (Uni Eropa) plus AS selaku blok yang lain. Jadi, ini adalah perang antara negara adidaya. Ini adalah perang antara para “penguasa” dunia.
Selepas AS menarik pasukan dari Afghanistan di waktu lalu, sesungguhnya kita bisa melihat betapa mulai rapuhnya kekuatan mereka. Itu juga dibuktikan dari Presidennya yang hanya bisa berteriak dari istana tanpa mampu mengirimkan pasukan-pasukan terhebatnya. Padahal AS disebut-sebut sebagai “pemimpin” dunia. Nyatanya itu yang seringkali kita tahu. Dan kini, julukan “pemimpin” dunia tengah dipertaruhkan.
Mengingat yang perang adalah negara adidaya, maka persetan itu aturan. Mereka tak peduli apa itu aturan. Satu kali pencet, senjata mematikan Putin bisa saja mengudara. Memang, beberapa senjata dari Uni Eropa dan pasukan asing sudah berdatangan. Ukraina benar-benar menjadi “korban” dan medan tempur dari perebutan pengaruh negara-negara adidaya.
Pada akhirnya, “pemenang” dari perang ini kemungkinan besar akan menjadi “penguasa” baru dunia. Dan tak kalah pentingnya, tatanan dunia yang baru mungkin saja akan tercipta. Nah, kini mungkin kita perlu bertanya, apa yang perlu dilakukan Indonesia?
Agak lucu memang ketika beberapa orang di negeri ini menawarkan agar pimpinan negara kita menjadi juru damai. Bahkan ada sampai yang menawarkan agar Bali dijadikan tempat perundingan. Masa kali, lagi perang kepikiran liburan di Bali? Saya tidak tahu ini serius atau bercandaan. Tapi kalau serius, jelas sekali keterlaluannya. Persoalannya kan begini, apa daya tawar yang dimiliki Indonesia sehingga bisa dipercaya sebagai tuan rumah perundingan oleh Rusia dan Ukraina?
Jadi, itu sesuatu yang jauh dari kemungkinan. Menurut saya pribadi, yang perlu dilakukan Indonesia justru mengevaluasi dan memperkuat dirinya dari beragam aspek. Indonesia perlu serius untuk mengelola program mandiri (tidak hanya bergantung kepada impor dan negara lain) di segala sektor saat ini dan ke depannya. Kita punya sumber daya alam yang hampir lengkap, semua ada. Sumber daya manusia kita jelas lebih unggul jika dibandingkan Korea Utara misalnya, yang elitnya main rudal-rudalan. Memang, keberpihakan (kepada bangsa dan negara) dari elit kita yang kini ditunggu dengan harap-harap cemas. Artinya, untuk menjadi kekuatan besar yang berpengaruh di dunia sebenarnya kita punya potensi besar.
Memang, hari ini kita masih memiliki persoalan internal yang hebat. Mulai dari KKB Papua hingga susahnya minyak goreng. Tetapi, bukankah tak masalah kalau kita punya impian yang besar?
Cepat atau lambat, perang ini akan menyeret negara-negara lain ke arus pusarannya, mungkin termasuk juga Indonesia. Jika Indonesia tidak bersiap-siap dan segera mengambil kebijakan strategis yang berkaitan, bisa jadi Indonesia juga akan seperti Ukraina ke depannya. Menjadi “korban” perebutan negara adidaya. Sayangnya, apakah itu terpikirkan oleh elit negara kita? Kalau soal ini saya tidak tahu.
Nah, karena apa yang saya tuliskan adalah kemungkinan-kemungkinan, jadi jangan sepenuhnya dipercaya. Yakusa! []
Viki Adi Nugroho
