Jika Saya Jadi

Dari kemarin-kemarin, semenjak terbunuhnya seorang dokter terduga teroris, saya kembali teringat apa yang telah saya tulis di buku Pesan untuk Kini dan Nanti yang membahas tentang persoalan terorisme. Di tulisan itu saya menyoroti terkait penangkapan yang gagah-gagahan. Layaknya koboi, layaknya operasi di film-film aksi. Saya berharap agar hal-hal yang begituan bisa diminimalisir atau bahkan tak perlu jika dimungkinkan. Kita yakin bahwa badan yang khusus bertugas untuk terorisme itu pasti cerdas. Tahu siapa orang yang akan ditangkap dan bagaimana kondisinya.

Negara muasal dan penggagas PGMT (Perang Global Melawan Terorisme), yakni Amerika Serikat (AS) sendiri saja sudah kelimpungan. Mereka sibuk dengan urusan internal negaranya sendiri, mengenai kesehatan warganya, kemiskinan, dan persoalan sosial yang jika dibiarkan bisa meruntuhkan wibawa negerinya. Lihat saja Ukraina, dibiarkannya menangis dan merengek-rengek. Nah, justru di Indonesia isu mengenai ini terus menerus diungkit dan digelindingkan.

Yang sedang saya bayangkan sebenarnya bukan hanya soal ini, tapi jika saya seorang intelektual (Muslim), jika saya seorang aktivis (Muslim), dan berada di dalam lingkaran kekuasaan sekarang. Saya bertepuktangan mengenai isu terorisme ini. Tak peduli dengan sesama saudara (Muslim). Hanya peduli pada kelompok sendiri. Menyerukan wacana-wacana kontra-terorisme melalui moderasi yang justru kebablasan bahkan memecah umat. Dan begitu banyak hal dilakukan. Meski sangat disayangkan, sekelas minyak gorang saja saya tak mampu mengatasinya.

Memang, kekuasaan itu memabukkan. Apalagi jika sudah berhubungan dengan uang. Sehebat apapun seorang intelek memegangnya, jika sudah bertengger (terlalu lama) jatuh juga akhirnya. Kekuasaan ada masanya dipergilirkan. Kekuasaan itu layaknya manusia yang punya usia.

Mungkin, sekarang saya sedang tak sadar. Kesadaran itu bisa jadi akan muncul ketika kuasa sudah tak dipegang. Kesadaran itu muncul ketika kembali menjadi rakyat biasa. Ternyata, selama ini kemanusiaan telah digadaikan hanya untuk jabatan dan harta. Padahal sebelumnya, saya adalah orang yang meneriakkannya. Gelar “intelektual” yang disematkan pada saya ternyata hanyalah alat untuk melakukan pengkhianatan. Kalau kata Si Benda itu: pengkhianatan kaum intelektual!

Jadi, apakah saya telah berkhianat?

Baiklah, kita akhiri saja angan-angan ini. Ini adalah bayangan ketika ternyata saya adalah elitnya. Untung saja itu hanya bayangan. Hanya angan-angan belaka. Kini, kita panjatkan saja doa kepada Allah ta’ala semoga negara kita terus diberkahi dan elit kita selalu disadarkan mengenai amanahnya.

Kini kalian mungkin akan bertanya, “Kapan isu dan persoalan ini akan berakhir?”

Mungkin jawabannya juga sederhana, “Ketika ada covid versi megatron.” []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *