Suatu malam sembari ngopi saya membuka buku pak Anis Matta “Gelora Muda Anak Bangsa”. Buku oleh-oleh dari Gaza book store Jogja ini isinya saya kira sangat relevan untuk para muda-mudi, terutama bagi mereka yang mau merenung dan bertafakur. Kalau melihat covernya memang saya kira biasa-biasa saja. Yang membuat menarik, jujur, karena buku ini tulisan dari pak Anis Matta. Agak egois memang kalau saya sebut beliau sebagai salah satu kiblat tokoh politik Islam masa kini. Namun, kalau melihat gagasan bernegara dan sepak terjang beliau, tidak berlebihan kalau saya menyebutnya seperti tadi. Akan tetapi bukan itu yang ingin saya bahas, melainkan isi buku beliau ini.
Pada pertengahan isi buku saya menemukan hal yang menarik yakni tentang “Kolonialisme Pemikiran”. Sebuah tema yang memang harus diangkat untuk bekal umat khususnya dalam imunitas pemikiran.
Penjajahan nyatanya tak selalu dalam bentuk fisik ataupun ekspansi wilayah seperti pada abad 16 hingga pertengahan abad 20an yang lalu. Penjajahan dalam bentuk pemikiran mungkin akan kita jumpai sampai sekarang ini. Bebasnya infomasi yang didapat dari internet dan tafsir individu yang relatif tentu tidak akan bisa membendung pemikiran yang masuk ke bangsa ini. Konsep berfikir yang matang lah yang menjadi imun terhadap pemikiran-pemikiran yang bersebrangan dengan Islam.
Gandrung terhadap filsafat nyatanya juga bukanlah sesuatu yang dilarang. Informasi yang didapat pun bisa kita terima dari mana saja. Namun, yang menjadi permasalahan adalah metode yang digunakan bukan metode Islami. Disparitas ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi terkadang membuat diri kita buta dan taklid kepada peradaban barat. Sehingga pemikiran-pemikiran yang bercorak “logika bebas” khas Yunani masuk dan tak terkendali.
Tentu saja sumber pemikiran seorang muslim merujuk pada pemikiran Nabi Shalallahu’alihiwasalam dan para sahabat ~ Fikrah Islamiyah Asasiyah ~. Yakni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi yang diinterprestasikan melalui praktik sehari-hari. Bukan melalui pengembaraan logika secara bebas lalu di uji kebenaranya seperti logika khas Yunani.
Seperti yang di ungkapan pak Anis Mata dalam bukunya ini. Bahwa mencari kebenaran haruslah menggunakan metode iman, bukan logika bebas. Karena logika manusia terbatas dalam memahami, sedangkan wahyu itu mutlak kebenarannya bersumber dari Allah Ta’ala. Ketika manusia tak mampu untuk memahami wahyu pada persoalan tertentu, maka sikap seorang muslim haruslah berhusnuzhan (sangka baik) kepada Allah.
Bila para kaum muslimin menggunakan metode itu tentunya melaui bimbingan para Ulama. Pemikiran-pemikiran yang bersebrangan dengan pemahaman Islam mungkin tidak akan mudah masuk ke negeri kita. Namun, siapa yang mau belajar dan mendekat pada para ulama? Saya tidak sering menjumpai pemuda yang seperti itu. Bahkan untuk sekelas mahasiswa pun saya masih jarang menjumpai.
Saya sependapat dengan yang dikatakan pak Anis Matta, Kalau kita melihat ke belakang pada masa-masa SMP atau SMA, tentu akan menjumpai buku-buku yang bertabrakan dengan pehamaman Islam biasanya berkaitan tentang Ilmu Pengetahuan Alam. Husnuzhan saya mungkin sebagai komparasi Ilmu Islam dan Barat. Namun bagaimana bila para siswa tidak dibekali ilmu-ilmu keislaman? Tentu akan mempengaruhi pola berfikir para siswa di masa yang akan datang. Belum lagi berbagai media barat yang sering memberikan stigma negatif dan pengkotak-kotakan Islam di berbagai belahan dunia. Namun, itulah yang menjadi tantangan kita saat ini. Berfikir dan berperilaku dengan dengan cara Islami sehingga terciptalah peradaban Islam yang baik tanpa terdikte oleh pemikiran barat yang negatif. []
Akhmad Suhrowardi
