Beberapa hari terakhir, kita disuguhkan potongan-potongan video Bu Mega yang berseloroh mengenai emak-emak yang rela antri minyak goreng dan memberikan saran agar memasak selain pakai minyak. Kreatifitas warga kita memang dahsyat. Di twitter, sampai ada akun yang hilang gara-gara membuat sindiran mengenai ini. Mungkin ada yang melaporkan. Ya, itu biasa sebenarnya.
Pernyataan Ketum Partai yang terkenal dengan jargon Partai Wong Cilik ini memang menghebohkan. Kalau Si Bung (Karno) di edo tensei dan hidup kembali, mungkin akan beda cerita. Di tengah badai covid yang berefek pada ekonomi plus ditambah naiknya harga minyak goreng, tentu tak elok seorang elit melontarkan pernyataan ini. Kurang etis lah istilahnya. Kurang menghargai perasaan wog cilik. Mengenai bagaimana sikap seorang pemimpin atau elit terkait kondisi seperti ini pernah saya uraikan di buku Pada Sebuah Bahtera Politik.
Tapi bagaimanapun, sebenarnya ada yang lebih aneh dari apa yang dikatakan Bu Mega. Ialah pernyataan Menteri Perdagangan yang tidak bisa mengendalikan harga karena ada mafia. Berarti, negara kalah dong sama mafia? Kan publik secara awam akan menyimpulkan begitu. Lalu akan berlanjut pada kesimpulan lain: berarti negara tidak kuat? Implikasinya mungkin begitu. Padahal negara itu punya instrumen lengkap yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk menemukan mafia yang dimaksud. Kita juga tahu semua kalau pemerintahan saat ini sangat kuat kan? Buktinya sekelas Omnibus Law saja bisa lolos. Diprotes besar-besaran saja tetap lanjut ujungnya.
Mungkin kicauan dokter tifa di twitter bisa menjadi contoh alternatif lucu (kalau mau dianggap serius juga silakan), bagaimana untuk mengatasi minyak goreng mahal ini sekaligus menghajar Si mafia (jika meminjam istilah menteri perdagangan). Apa itu? Emak-emak di Indonesia selama 3 bulan ke depan jangan menggoreng atau memasak dengan minyak. Bisa dengan bakar, pepes, sop, acar, ungkep, rebus, bacem, dsb. Mencoba menahan dulu, efeknya katanya tubuh akan lebih sehat karena minyak berkurang dan para mafia kejang-kejang karena minyak goreng tak laku-laku. Katanya, jika permintaan barang turun sementara pasokan banyak, harga juga bisa melandai.
Ya, jangan dianggap terlalu serius. Selamat makan. []
Viki Adi Nugroho
