Oleh Depi Komalasari/ flowerheather18@gmail.com
Hakikat Hadji
Hajji ke Baitullah, merupakan rukun islam yang ke-5 dan kewajiban hajji cukup dilakukan sekali saja bagi yang mampu. Hajji merupakan kongres umat Islam seluruh dunia yang setiap tahun dilaksanakan di tanah suci Makkah, dengan pertanggalan yang dilakukan yaitu antara bulan syawal sampai 9 Dzulhijah. Hajji melambangkan persatuan umat manusia dan persamaan kelas diantara manusia, tidak ada perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin, rakyat biasa dengan rakyat luar biasa, yang berkulit gelap dan berkulit cerah, yang berpendidikan dengan yang tidak berpendidikan, semuanya dalam pakaian yang sama yaitu pakaian ihram.
Dewasa ini, masyarakat muslim berlomba-lomba untuk menunaikan hajji. Tujuan ber-hajji yang di lakukan masyarakarat muslim terkhusus di Indonesia berbeda-beda; ada yang ingin mendapatkan gelar hadji/hadjah (sebagai titel bahwa mereka pernah ke tanah para Nabi dan Rasul) dan tentu jika mereka sudah pulang ke kampung halamannya “ada” yang marah ketika sapaan nama untuk mereka tidak diiringi dengan –hadji. Selain itu, ada yang bertujuan hanya untuk berziarah ketempat para Nabi dan Rasul tersebut. Bahkan, apakah kalian pernah mendengar bahwa Muhammad Rasulullah memiliki gelar hajji? Sehingga penyebutan untuk Rasulullah adalah H. Muhammad Rasulullah? Lantas dari mana titel atau gelar hajji itu berasal?
Miris bukan? Masyarakat muslim Indonesia lupa bahwa apalah sebuah gelar yang tersemat di sebuah tulisan nama? Mereka pun “lupa” atau bahkan mereka “tidak tahu” bahwa kita sebagai manusia memiliki Sang Penilai yang akan memberikan kepada kita status, yang dengan status ini kebadian manusia ditentukan, apakah kita masuk kedalam surga atau neraka? Allah Swt., memberitahukan kepada kita bahwa “yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa” pernyataan Allah Swt. tersebut tercantum di dalam Qs. Al-Hujurat ayat 13.
Pribumi ber-hadji
Tahun 1869, sejak terusan Suez dibuka, setiap tahun ribuan kaum muslimin Hindia Belanda menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Bentuk nyata dari pentingnya ber-hajji bagi masyarakat muslim hindia timur adalah meningkatanya jumlah jama’ah hajji menjelang pertengahan abad ke-19. Pada tahun 50-60-an jumlah jama’ah hajji mencapai 1600, pada 70-an mencapai 2600 dan pada 80-an mencapai 4600 orang. Pada tahun 1900-1914, para jama’ah hajji yang datang ke Djedah sebanyak 192.167 orang. Jumlah jama’ah hajji dunia pada akhir 1914 adalah 56.855, sedangkan jama’ah hajji yang terdata sebanyak 28.427 orang. Jama’ah hajji hindia timur pada tahun tersebut menymbang lebih dari total jama’ah hajji secara keseluruhan.
Sekembalinya para jama’ah hajji dari Makkah, mereka mengajarkan berbagai ilmu yang didapatkannya selama ber-hajji. Salah satunya adalah semangat gerakan Pan Islamisme yang bawa oleh para hajji. Keterkaitan antara para hajji sebagai penyebar warta Islam di Hindia Timur dengan perkembangan Pan Islamisme di Timur tengah bukanlah sebuah kebetulan, melainkan terkait dengan sebuah proses politik panjang yang dialami oleh para hajji di Makkah menjelang abad ke-20.
Pemikiran Pan Islamisme yang terkenal dan tersebar di Hindia Timur salah satunya yaitu Al-Urwat al-Wuthqa (Ikatan Yang Tak Hancur), majalah mingguan yang diterbitkan oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, sebagai salah satu pertemuan merekadi Paris pada tahun 1884. Hal tersebut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan nasionalisme umat Islam di dunia Timur. Gagasan-gagasan maju yang dikemukakan oleh M. Abduh dikenal di Hindia Timur melalui majalah Al-Manar, yang diedit sejak tahun 1897 oleh Rashid Ridha, merupakan murid utamanya.
Pemerintah Belanda pun tidak melupakan kenyataan bahwa berbagai perlawanan umat Islam memang banyak dimotori oleh para hajji dan ulama. Pemerintah Belanda berpikir, untuk mengurangi laju perlawanan pribumi yang dimotori para hajji, maka muncullah berbagai larangan terhadap kaum pribumi untuk ber-hajji. Hal tersebut terjadi karena menurut Belanda, ibadah hajji tersebut membuat kaum pribumi yang-berhajji menjadi “fanatik” dan ujungnya dalah menjadi “tukang berontak”. Peristiwa tersebut tentunya menjadi ancaman bagi kolonial Belanda.
Selain itu, pemerintahan Belanda melarang buku-buku Arab yang “berbahaya” agar tidak masuk ke wilayah Hindia Timur. Namun, berkat orang islam pribumi yang belajar di al-Azhar dan Makkah, serta melalui pelabuhan nelayan di Tuban, majalan-majalan dan surat kabar seperti : Al-Urwat al-Wuthqa, al-Mu’ayyad, al-Syasah, al-Liwa, al-‘Adi (Kairo), dan Thamarat al-Funun serta al-Qistas al-Mustaqim (Bierut) berhasil “diseludupkan” ke Hindia Timur.
Bapak hadji pribumi: Tokoh pergerakan
Keterhubungan antara Timur Tengah dengan Hindia Timur semakin kuat ketika pembentukan Sarekat Dagang Islam. Sebuah perkumpulan atau wadah persatuan umat Islam yang banyak diisi oleh hajji-hajji pribumi, seperti H. Samnhoedi, H. Oemar Said Tjokroaminoto, H. Agus salim, H. Ahmad Dahlan, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Hasyim Asy’ari dan tokoh hajji lainnya. Sejak pendiriannya, para tokoh SI (SDI berubah menjadi SI pada tahun 1912) telah banyak berkominkasi dengan Kekhilafahan Turki Utmani. Hal Inilah yang nantinya mendorong mendorong HOS. Tjokroaminoto menjadikan Sosialisme Islam menjadi dasar Ideologi Parta Sarekat Islam. Sebuah Partai hasil metamorfosis dari Sarekat Islam.
Sumber :
- Raharjo Handri, 2019. Metamorfosis Sarekat Islam – Gerakan Politik Islam dan munculnya kesadaran Nasional. Yogyakarta: Media Pressindo.
- Djaelani Timur Antoni. 2017. Gerakan Sarekat Islam Kontribusinya pada nasionalisme Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES
- Nasihin, 2012. Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
- Mudjrio Rahman Abdur, 1989. Meluruskan Tauhid Kembali ke Akidah Salaf. Bandung: Pustaka Press Bandung.

