Generasi Muda, Rumah, dan Jogja

Membahas tiga hal ini rasanya cukup menarik. Tentu saja menarik dibahas dan dipikir oleh mereka, yakni generasi muda yang sedang berada di Jogja. Wabil khusus lagi kepada mereka yang berencana untuk bertempat tinggal atau menetap di kota pelajar ini. Kalau dianggap tidak terlalu penting tak mengapa. Skip saja tulisan ini ke bawah.

Ceritanya begini. Dengan upah minimum kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) antara 1.9 juta hingga 2,16 juta, kita coba buat hitungan matematis sederhana. Kita ambil gaji paling tinggi per bulan, misal 2,16 juta, ini UMK untuk kota Yogyakarta. Seorang anak muda, jomblo, ngekost, dengan angka segitu jika dikatakan cukup, tentu saja bisa sangat cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Meski bisa jadi, sisa untuk ditabung tinggal beberapa rupiah saja (pis). Itu kalau ada sisa. Persoalannya jika kita tarik lebih jauh, yakni ketika seorang anak muda ini menikah lalu ngontrak dan bekerja seperti sedia kala. Artinya di sini kita sedang bicara tentang masa depan.

Kita asumsikan muda-mudi yang menikah menjadi suami istri bekerja. Mereka sama-sama mendapat upah 2,16, sehingga total 4,32 juta per bulan. Kebutuhan tiap keluarga pasti berbeda-beda. Kita ambil permisalan saja. Kita coba rinci sebagai berikut: 2 juta ditabung, sisanya untuk kebutuhan lainnya. Apakah 2,32 juta cukup untuk kebutuhan berdua? Kita anggap saja cukup, ya dicukup-cukupkan. Biaya kontrakan setahun misalnya 10-14 juta. Berarti biaya lain-lain selama setahun sekitar 14 juta jika mengacu pada angka 2,32 tadi. Dalam satu bulan ada sekitar 1,6 juta untuk makan dan lain-lain (di luar biaya kontrakan). Apa 1,6 juta cukup per bulan? Silakan tanya sendiri, cukup atau tidak. Kalau misal perincian biaya ini ngawur, coba buat rincian sendiri ya. Yang paling penting dari sini adalah kepastian uang bersih atau yang ditabung per bulan. Kita akan menggunakan angka tersebut untuk mencoba perhitungan harga rumah.

Jika kita berada di posisi kedua pasangan tersebut, pasti kita akan berpikir untuk mencari tempat tinggal yang murah dan mudah aksesnya (dari fasilitas umum) atau tempat kerja. Jika pasangan berdua ini bekerja di Kota Yogyakarta, maka harga tanah paling murah di kota adalah kisaran 6 juta per meter persegi (kalau masih ada). Jika luas tanah 100 meter persegi misalnya, maka harganya 600 juta. Itu baru tanah. Kalau misal cari rumah? Jangan tanya saya. Nanti bisa pingsan.

Itulah mengapa, biasanya pencarian berpindah ke daerah Bantul, Kulonprogo, atau Gunungkidul untuk mencari yang lebih terjangkau. Di Kulonprogo kita masih bisa menemukan harga tanah 800 ribu per meter perseginya. Jadi jika luas 100, maka perkiraan harga 80 juta. Nah, ini masih agak wajar kali ya. Kemudian membangun rumah dengan biaya borongan dengan asumsi 3 juta per meter persegi, jika yang dibangun misal hanya 60, maka biayanya adalah 180 juta. Total semua 260 juta.

Dengan tabungan 2 juta per bulan, maka dibutuhkan waktu sekitar 130 bulan atau hampir 11 tahun untuk mencapai impian tersebut. Selama 11 tahun itu, harga juga akan terus naik. Ingat, harga tanah ini naik terus tiap tahun ya. Jadi, kita belum memasukkan faktor kenaikan tersebut.

Anggaplah saja, ini opsi paling memungkinkan (perhitungan menggunakan harga Kulonprogo) dibanding kita menggunakan acuan harga di Kota. Meski kita tahu kalau contoh pasangan yang kita bahas ada di daerah kota. Seandainya kita pakai acuan harga Kota, mungkin nyaris seumur hidup pasangan tersebut belum bisa membelinya.

Dengan hitungan angka-angka yang tidak masuk akal di atas, sebenarnya inti tulisan ini adalah adanya kekhawatiran mengenai generasi yang tidak sanggup memiliki tempat tinggal pribadi. Itu saja. Jadi angka-angka di atas hanya contoh saja. Saya tidak tahu apakah hanya saya yang berpikir seperti itu. Namun, kondisi di atas adalah kondisi riil atas kemampuan pasangan. Artinya tidak mencampuradukkan faktor eksternal. Tentu saja pasangan yang beruntung adalah mereka yang mendapatkan faktor eksternal, misalnya mendapatkan warisan berupa uang, rumah, tanah, dan lain sebagainya yang nilainya begitu besar. Atau mereka yang memiliki keluarga berkecukupan sehingga menerima hadiah dari orangtuanya berupa aset tanah atau rumah.

Apakah ini darurat? Saya juga tidak tahu. Memang saya menuliskan hal ini terlalu pragmatis. Seolah-olah hidup hanya untuk mencari dunia. Tapi bukan begitu maksudnya. Saya hanya mencoba berpikir realistis saja. Saya yakin, jika ada kemauan lautpun akan diseberangi. Dengan mencoba menghitung kasar rencana hidup tersebut, kita masing-masing bisa menata apa saja rencana besar ke depan yang harus dilakukan. Apa saja langkah-langkah yang harus diambil dan bagaimana melakukannya. Dalam sebuah keluarga, perencanaan itu penting. Jangan sampai kita mengalir apa adanya. Begitu banyak kasus perceraian disebabkan oleh faktor ekonomi. Menata masalah keuangan itu penting. Itulah mengapa di masa ini, begitu banyak para ulama mencoba menuliskan referensi-referensi seperti ini bagi keluarga Muslim, apalagi di dunia yang serba penuh mode dan tren.

Mungkin, kalian yang berada di daerah lain juga punya kalkulasi yang berbeda. Akan begitu baik jika itu dituliskan dan dibagikan. Siapa tahu mampu membuat banyak pasangan (muda) suami istri untuk kembali memikirkan matang-matang rencana hidup mereka. Bagi yang kini masih jomblo dan baru akan merancangnya, tulisan ini mungkin bisa sedikit menjadi bacaan. Setidaknya bukan untuk melemahkan mental, tapi justru untuk menguatkan dan mencari cara terbaik untuk mengatasinya. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *