Antara Logika dan Asumsi

Tulisan ini berawal dari kejadian sederhana yang sering dialami, yaitu berpapasan dengan orang lain. Berbagai ekspresi yang kemudian muncul dari kejadian sederhana ini. Ekspresi datar, tersenyum, bahagia, tertawa, sinis, marah dan bahkan acuh tak acuh. Berbagai ekspresi yang muncul ketika berpapasan dalam sekian detik tanpa penjelasan, akan memunculkan banyak asumsi yang kadang kala tidak mampu dilogika. Asumsi tersebut berkembang dan mengembara memenuhi fikiran.

Dalam hitungan detik ketika berpapasan dengan seseorang yang berekspresi datar padahal kita sudah tersenyum, apa yang kemudian tercerna oleh otak kita? Asumsi yang bermunculan, asumsi negatif akan mengarah bahwa orang tersebut tidak suka terhadap kita atau orang tersebut sedang marah terhadap kita. Asumsi positif akan mengarah bahwa orang tersebut bisa jadi sedang banyak fikiran sehingga tidak sadar mengacuhkan kita, orang tersebut sedang lelah dengan keadaan lain yang tidak ada hubungannya dengan kita, atau orang tersebut kurang konsentrasi jadi tidak memperhatikan kita yang tersenyum dan menyapa.

Jika asumsi negatif yang mendominasi, maka ini akan menjadi sumber penyakit hati. Kesehatan dan kewarasan dipertaruhkan. Merasa tidak dihargai, tidak dipedulikan, bahkan merasa terkucilkan sendiri yang berujung pada depresi. Hal ini sangat mungkin sekali terjadi. Faktor internal maupun eksternal seseorang sangat berperan penting dalam hal ini. Membiarkan asumsi negatif berkembang, tentunya hanya akan merugikan diri sendiri.

Asumsi yang terbentuk saat berpapasan dengan seseorang jika dipadukan dengan logika, dicerna secara lebih mendalam maka akan bermunculan banyak hipotesa. Logikanya secara etika sopan-santun ketika seseorang menyapa dan memberikan senyuman maka pihak lain wajib membalas dengan hal yang sama. Senyum, sapa, salam, dan santun adalah SOP dasar dalam bersosialisasi. Terlepas dari kondisi seseorang tersebut sedang menanggung beban atau masalah apa. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir asumsi negatif yang jika berkembang lebih jauh akan memantik adanya konflik. Konflik batin dalam diri sendiri maupun konflik dengan orang lain. Mari Tarik nafas sebentar setelah berpapasan dengan seseorang, terlepas dari apapun responnya. Tetap tersenyum dan semua akan berlalu dengan baik.

Asumsi positif yang diikuti dengan logika positif insyaAllah akan membawa energi yang positif juga. Menghindari konflik, menjaga kesehatan jiwa dan raga.

Dewik Agustina Fatmawati

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *