Sesekali, cobalah bersantai layaknya kungkang. Bagi yang sudah bekerja, coba rehat sejenak. Ambil jarak sedikit saja dan coba tengok ke dalam diri kita. Tengok pasangan kita (bagi yang sudah menikah). Tengok keluarga kita. Siapa tahu masih banyak hal yang bisa dilakukan bersama dan mungkin belum pernah dilakukan.
Pekerjaan mungkin telah menyita sebagian besar umur dan waktu luang yang kita miliki. Tapi itu semua jangan sampai menjauhkan kita terhadap apa yang membuat diri kita bahagia. Dunia mungkin telah mengisi sebagian diri kita, tapi hendaknya itu tak membuat kita lupa pada apa sebenarnya kita bersandar.
Sepertinya sebagai orang Indonesia, kita itu terlalu beruntung. Bayangkan saja jika kalian hidup di Jepang atau Korea Selatan atau negara-negara industri lainnya, khususnya di negara-negara yang memiliki persepsi bahwa “pekerjaan”, “waktu”, dan “uang” adalah segala-galanya. Bersantai sedikit saja mungkin dianggap aib. Makan secepat kilat. Tidur lebih cepat. Bekerja lebih banyak. Di Indonesia, kita bisa menikmati makan bersama dengan obrolan ringan sampai serius hingga berjam-jam. Ngopi segelas sampai setengah hari. Bahkan mungkin tidur semaunya. Persepsi masyarakat kita masih tergolong “santai”. Itu beruntungnya kita.
Kita hidup di suatu lingkungan nyaman yang bisa memberi jarak pada dunia dan mengembalikan kesegaran atas semua hal yang telah kita rencanakan dan susun. Jika memungkinkan, malah menyusun ulang semuanya. Sampai sini, kita patut bersyukur.
Jika kita sedang pasang target, tak ada salahnya mencoba rehat sejenak jika di tengah jalan ada kebuntuan yang cukup. Bisa jadi kita butuh “recharge”, menenangkan diri, dan menata ulang dengan pikiran yang jernih. Sebagai seorang Muslim, bahkan menghisab diri adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan berulang-ulang dan terus menerus. Tak lain tak bukan adalah untuk meluruskan dan menata ulang semuanya.
Sesekali cobalah keluar berjalan menghirup udara pagi di akhir pekan. Sesekali, shalatlah di waktu dini hari sembari merenungi tentang perjalanan panjang kehidupan, tentang semua yang telah kita lakukan, dan tentang semua yang akan dilakukan. Sesekali, datangilah pusat perbelanjaan. Berkelilinglah tanpa perlu menghabiskan uang sepeserpun kecuali membayar parkir.
Sesekali, datangilah pameran lukisan, fotografi, dan nikmatilah. Jika belum bisa menikmatinya, berarti jiwa kita masih terlalu serius dan belum mampu sedikit bersantai. Bersantai, berhenti sejenak, dan mengambil jarak terkadang memang diperlukan ketika kita mengalami kebuntuan. Barangkali dari situ, melalui “sesekali” dan perenungan-perenungan baru, kita mampu menata dan merencanakan arah-arah baru dan optimisme baru.
Coba sesekalilah.
Sesekali, membaca biografi orang-orang besar juga tak kalah pentingnya. Kita akan menemukan gairah dan inspirasi baru. Sebenarnya, tak harus orang-orang besar pula. Kisah-kisah pergulatan orang terpinggirkan yang memberi inspirasi besar dalam kehidupan juga bagus untuk kita simak. Mereka, dengan segala keterbatasannya mampu mengambil momentum, bertahan lebih lama, dan bisa “menang” menurut apa yang diidealismekannya.
Saya mengerti betul, bacaan buku biografi itu tak terlalu dianggap penting bagi sebagian orang. Saya juga begitu, dulu. Tapi, sedikit-demi sedikit saya coba membaca dan mengumpulkan buku-buku biografi untuk keperluan ini: mencari semangat dan inspirasi baru. Mencoba mencari kunci-kunci mengapa mereka bisa melalui ujian besar dengan keterbatasan yang dimilikinya.
Sesekali, cobalah. []
Viki Adi N
