Dunia memang semakin gila, itu versi saya. Lihatlah betapa semakin ke sini, pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi semakin hebat. Bukan hanya menyejahterakan manusia, tetapi juga berlaku sebaliknya.
Lihatlah betapa banyak orang makin stres. Lihatlah betapa banyak orang minder, inferior, atau rendah diri (ada juga yang sebaliknya, terlalu narsis!). Lihatlah betapa banyak orang mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Lihatlah betapa banyak orang yang menipu dirinya dengan menginginkan menjadi orang lain.
Atau mungkin, itu (masih) terjadi pada diri kita sendiri? Lihat unggahan teman memegang piala dan uang penghargaan, tiba-tiba panas. Kita mulai membanding-bandingkan diri, mengutuki nasib, dan seterusnya. Jadi, apa ini gunanya media sosial dan kecanggihan gawai?
Ini baru skala kecil, hanya salah satu soal skala individu. Masih ingat peringatan Einstein mengenai nuklir dan zionis (Israel)? Sebagai ilmuwan jenius, ia telah memperingatkan soal kedua hal tersebut. Dan, faktanya? Ya, tidak usah kita jawab. Memang begitu dan terjadi.
Dari level individu sampai negara (bahkan, dunia), semuanya tak baik-baik saja. Peradaban manusia sudah sampai pada taraf kecanggihan, tetapi kesedihan yang dihasilkan ternyata juga sebanding. Memang, kita harus ingat satu kaidah ini: bahwa di setiap rasa bahagia, akan ada rasa cemas dan sedih.
Kompleks memang. Jika di dunia ini sudah tidak ada lagi nilai yang dipercaya dan diyakini kebenarannya, sudah dipastikan bumi tempat kita berpijak tinggal menuju kehancurannya. Iklim yang berubah, kerusakan alam, manusia yang serakah serta saling menghancurkan, dan seterusnya.
Agama (spiritualitas) yang telah lama dicampakkan, nyatanya sungguh dibutuhkan. Dunia isme-isme (anggap saja sebagai “agama” ideologis) berjatuhan, ambruk. Mati satu, muncul baru, terus begitu. Trial dan error. Semakin gila. Kita selaku manusia yang tengah bergulat dengan uang receh untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, hanya bisa mengoceh dan menghujat sana-sini.
Begitulah hidup. Benar-benar berkebalikan. Benar-benar paradoks. Di tengah derita yang selalu muncul. Kita hanya bisa berharap dan berusaha untuk menjadi manusia-manusia atau diri-diri yang “lebih baik”. Kalau kita ingin menjadi orang “luar biasa”, nampaknya kita salah alamat tinggal di bumi. Mungkin, pindah saja ke mars atau galaksi lain. Beristigfar, salat, dan mengingat Tuhan adalah salah satu cara menjaga kewarasan mengenai hal ini. []
Viki Adi N
