Ketika chat GPT mulai naik daun, saya coba untuk tidak menggunakannya. Tradisi “primitif” masih dilakukan. Mencari referansi di buku, jurnal, penelitian, dan seterusnya. Mbah Google (saya tidak tahu dianggap artificial Intelligence/AI atau tidak), adalah mesin yang biasa dipakai untuk menelusuri bahan-bahan tersebut.
Seiring dunia yang yang menuntut serba cepat, akhirnya berimbas juga pada pekerjaan. Ketika saya mengurusi (lebih tepatnya menyunting) naskah-naskah bertema pengembangan diri atau yang berhubungan dengan psikologi misalnya, maka saya harus cross check mengenai kebenaran teori yang digunakan, keabsahannya, kontekstualnya, data-datanya, dan seterusnya. Jika saya masih menggunakan cara “primitif”, maka ini benar-benar memakan waktu. Sementara, tuntunan pekerjaan di hari ini benar-benar cepat.
Pada akhirnya, saya gunakan chat GPT atau AI sejenisnya untuk mempercepat penulusuran pada hal-hal tertentu. Meski begitu, saya tidak mempercayai 100%. Saya menggunakan AI semacam ini hanya untuk menelusuri sesuatu yang saya benar-benar tak mengerti dan biasanya akan saya arahkan agar ada jalur referensi yang bisa dirujuk.
Misalnya, ketika saya mencari teori kognitif atau terapi kognitif (yang sering dipakai terapis untuk mengatasi gangguan kecemasan, depresi, dan sejenisnya), saya mencari garis-garis besarnya di chat GPT. Lalu, saya kembali ke mesin Google untuk mencari jurnal, penelitian, artikel psikolog atau psikiater, buku yang relevan, atau segala sesuatu yang bisa dirujuk. Jadi? Ya, pada intinya, saya tetap mempertahankan cara “primitif”. Hanya saja, untuk mempercepat penulusurannya saya meminta bantuan AI. Begitulah kira-kira.
Pada akhirnya, saya merasa ini lebih cepat dan efisien. Dunia benar-benar telah berubah. “Kecepatan” benar-benar menjadi tuntutan hari ini. Wajar saja, orang hari ini lebih banyak “stres”-nya ketimbang berusaha menikmati setiap waktu yang dilalui.
Kalau kita mau sedikit flashback, misal kita membaca buku-buku karya Syaikh Abdul Fattah, khususnya mengenai bagaimana para ulama atau cendekiawan Muslim di masa lampau mengelola waktu, bagaimana kesabarannya mencari ilmu dan mempertahankan kebenaran, sungguh, seharusnya mereka yang pantas lebih stres. Mereka yang lebih pantas untuk “gila”, jika dibandingkan dengan kemudahan-kemudahan yang bisa kita dapatkan saat ini.
Jadi, kalau kita masih merasa minder. Ya, beli kopi Good Day saja, biar hari kita terasa good (#pis). Kalau kita masih merasa minder, mencari inspirasi dari kisah-kisah orang lain semoga bisa menginspirasi. Mengamati kondisi mereka yang berada “di bawah”, juga bisa menjadi bahan renungan. Ternyata, mereka tak seberisik kita (#pis).
Kembali ke chat GPT tadi. Apa yang saya tuliskan ini mungkin terasa primitif sekali. Orang-orang mungkin sudah menggunakan AI semacam ini semenjak mereka naik daun. Sementara saya? Ya, baru kemarin-kemarin (awokawok 1000x).[]
Viki Adi N
