Ketika berhari-hari bunek ngotak-ngatik naskah atau hanya sekadar merapikan (proof, layout), biasanya saya mengambil sedikit waktu untuk berhenti sejenak, semacam “peregangan”. Dunia psikiater mungkin menyebutnya relaksasi atau “meditasi”.
Di beberapa tulisan, mungkin saya lebih suka menyebutnya “berhenti sejenak”. Namun, sepertinya saya belum pernah berbagi resep ini. Setiap orang pasti memiliki cara berbeda-beda untuk relaksasi setelah pusing atau bunek menghadapi berbagai persoalan hidup atau sekadar rutinitas sehari-hari.
Sebenarnya, Islam telah memberi solusi terkait masalah ini melalui wudu, salat dua rakaat, dan doa. Hal ini berfungsi untuk memberi rasa tenang pada jiwa yang lelah. Itu adalah obat dan bentuk kepasarahan kita kepada-Nya (pasrah yang dimaksud adalah tawakkal, bukan pasrah menyerah). Namun, Setelah melakukan “ritual” ibadah tersebut, berhenti sejenak (menurut saya) tetap diperlukan.
Biasanya, saya melakukan hal ini. Dulu, saya menemukan resep ini dari seorang psikiatri Timur Tengah. Loh, kenapa nggak dari Indonesia? Bukan begitu, kebetulan saja saya pernah membaca buku yang ditulis oleh psikiatri sana. Mengingat dari dulu, semenjak mahasiswa memang saya jarang membaca buku-buku yang bergenre “self improvement”. Sebelum berbagi resep, sekali lagi, setiap orang memiliki cara yang berbeda. Apa yang saya bagikan, mungkin tidak berlaku bagi yang lain.
Pertama, bisa diawali dengan wudu dan salat dua rakaat. Kalau misal rasa lelah kita benar-benar tak tertahankan, sementara kita sedang berada di waktu yang dilarang (maksudnya dilarang melakukan salat). Kita bisa skip cara pertama tadi (cukup dengan wudu saja jika diperlukan). Selanjutnya, pilih ruangan atau tempat yang kalau bisa tidak ada yang mengganggu.
Ketiga, membaringkan tubuh, beristigfar, memejamkan mata, dan jangan berpikir tentang masalah-masalah yang sedang terjadi. Biarkan otot-otot tubuh yang berasa tegang ketika bekerja atau beraktivitas sehari-hari untuk rileks, lemas, dan menikmati “peristirahatan”. Selanjutnya, ambil nafas yang dalam dan keluarkan. Lakukan ini berulang kali sampai kondisi lebih tenang.
Terakhir, jangan tidur. Waktu yang dibutuhkan tak perlu berlama-lama. Sampai kondisi lebih tenang dan lebih siap untuk melanjutkan aktivitas. Memang, cara ini hanya satu dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan.
Setelah rileks dan kondisi lebih tenang, biasanya pikiran kita akan lebih mudah untuk mengumpulkan dan menganalisis fakta dan pengetahuan. Hal ini penting dilakukan bagi yang sedang “mencari solusi” atas masalah-masalah yang terjadi. Tanpa rasa tenang (apalagi tanpa adanya prasangka baik), susah untuk bisa mencari jalan alternatif.
Kalau punya cara lain, jangan sungkan untuk berbagi ke khalayak. Hari-hari ini rasa-rasanya, begitu banyak orang yang merasa lelah. Mungkin karena terlalu sering mendengarkan lagu “jiwa yang bersedih”. (#pissssss) []
Viki Adi N
