Dari Tema Perselingkuhan

Entah mengapa, tema perselingkuhan selalu memiliki tempat di sebagian besar hati masyarakat. Entah berbentuk tulisan maupun film. Di “komunitas” menulis yang tersebar melalui aplikasi android misalnya, tema-tema ini juga menempati papan atas dan kerapkali menjadi perbincangan hangat. Tema ini nantinya akan meluas sampai pada selangkangan dan hal-hal sejenisnya. Di dunia fiksi sebut saja, novel-novel yang seringkali mendapat nominasi terbaik atau penghargaan ya yang isinya juga seperti itu.

Bayangkan saja jika tema-tema itu terus saja mendominasi. Memang terkadang ada baiknya. Kita bisa banyak mengambil pelajaran agar tak melakukan hal-hal buruk seperti yang dipaparkan dalam kisah-kisahnya. Tetapi jangan-jangan, keasyikan untuk mendaras hal-hal semacam itu bukan diniati untuk mengambil pelajarannya. Justru sebaliknya, karena memang terbiasa dan gandrung dengan tema-tema yang, mohon maaf, “jorok”. Semakin banyak digandrungi juga akan semakin menunjukkan bagaimana wajah sebagian besar publik. Dari situ kita bisa membuat kesimpulan sederhana.

Apa benar sebagian besar menyukai hal-hal yang begituan? Jika benar, bagaimana nasib masa depan bangsa yang besar ini? Tak usah jauh-jauh bicara soal bangsa dan negara. Pusing lah kalau itu. Dari lingkup kecil saja, bagaimana kondisi generasi muda masa depan nanti? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu barangkali yang kerap muncul bagi orang yang telah lama memperhatikan soal ini.

Dari keresahan yang kecil ini, memang yang kita butuhkan saat ini adalah anasir-anasir perubah yang banyak di setiap lini yang dibutuhkannya. Selain itu, untuk “melawan” dominasi tema-tema seperti yang telah disebutkan, kebutuhan akan paradigma atau pandangan hidup yang bersifat transendental bagi seorang kreator (penulis, sutradara, dsj.) adalah sebuah keniscayaan. Tentu yang kita maksud dengan transendental di sini adalah ketuhanan. Agama (Islam) menjadi pandangan hidup yang seharusnya tidak dilepaskan dari hati dan kepala kreator.

Adapun anasir-anasir perubah yang kita butuhkan akan menyesuaikan lini garapannya. Misal saja di bidang karya sastra (fiksi), tentu yang kita butuhkan adalah penulis-penulis yang memiliki pandangan hidup Islam sehingga lahirlah karya-karya yang memiliki nilai-nilai ketuhanan dalam memandang realitas kehidupan sehari-hari. Mengandung nilai-nilai transendental bukan berarti hanya masuk kategori fiksi Islami, tetapi justru masuk ke semua kategori. Jadi walau tema yang dibahas adalah tentang percintaan misalnya, di dalamnya tetap akan membawa dan menyebarkan nilai-nilai transendental serta mengajak pembacanya untuk menolak nilai-nilai yang bertentangan. Artinya nilai-nilai yang bersifat Islami itu mewujud menjadi nilai universal yang bisa “dipakai” oleh semua orang. Begitu juga dengan dunia perfilman, dunia content creator, dan sejenisnya.

Kerja-kerja ini pastilah bukan hal mudah di dunia yang suasananya telah berlaku demikian. Tetapi sekecil apapun peluangnya, kita masih bisa untuk menghadirkan dan menyuguhkan karya-karya yang bernilai (Islami). Untuk menutup uraian ringkas ini, saya ucapkan; Selamat berkarya. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *