Bedah Buku yang Aneh

Ini adalah pengalaman pribadi. Saya punya pengalaman bedah buku yang aneh. Kalau mau dibilang lucu juga boleh. Tak penting-penting amat sebenarnya tulisan ini. Tetapi saya ingin sedikit bercerita. Siapa tahu suatu saat kalian semua diundang untuk membedah sebuah buku sehingga kalian tak kaget atau tak terheran-heran ketika menjumpai apa yang pernah saya alami.

Pertama, bedah buku Untukmu Muslim Negarawan. Saya tidak tahu ini bedah buku Untukmu Muslim Negarawan yang ke berapa. Tapi momentumnya adalah serangkaian agenda akhir kepengurusan komisariat KAMMI UNY. Selaku pembicara, saya memakai baju gamis Fullheart yang bintangnya para ustadz terkenal itu. Mohon maaf agak sombong dikit. Nah, moderatornya, Aziz Anshori Rangkuti―yang sekarang menjabat sekum KAMMI Deli Serdang―juga memakai baju ber-merk sama begitu juga tipenya. Hanya berbeda warna saja, krem biru dan krem merah.

Singkat cerita, kajian buku yang diadakan di Masjid al-Mujahidin UNY itu dimulai. Sampai acara bubar, peserta bisa dihitung jari. Ketika beres-beres, saya juga ikut mengangkat alat-alat pendukung bedah bukunya, seperti meja, kursi, dan segala tetek bengeknya. Prosesi pemindahannya itu dari serambi menuju pintu pengimaman sholat dan berakhir di IEC (Islamic Education Center). Sampai di IEC, ternyata banyak kader KAMMI yang sedang nongkrong. Mungkin sedang mendiskusikan persoalan umat. Maghrib pun tiba. Saya tinggalkan Masjid Mujahidin untuk sholat Maghrib di Masjid sebelah Polsek Karangmalang. Maklum, sekretariat KAMMI memang dekat dengan Polsek. Dan saya masih tinggal di sana.

Itu adalah cerita bedah buku pertama yang paling aneh yang pernah saya isi. Apa anehnya? Coba dipikir saja. Nanti kalian akan menemukan keanehannya. Tolong jangan ketawa.

Kita lanjut ke cerita selanjutnya. Bedah buku kedua yang paling aneh ialah bedah buku mengenai tema Islamisasi Ilmu yang diadakan oleh Perpustakaan Masjid al-Mujahidin UNY. Bedah buku kali ini tidak membahas satu buku, tetapi beberapa buku yang memiliki tema Islamisasi Ilmu Pengetahuan, misalnya karya Prof. al-Attas, Prof. al-Faruqi, dan karya-karya setema lainnya. Seingat saya, bedah buku ini dilaksanakan malam hari selepas Isya ketika ada acara ormas Merah di Rembug Kopi. Bukan ormas Banteng, tetapi ormas Garbi yang sekarang entah kemana tak pernah terdengar lagi.

Tak disangka, ternyata pesertanya banyak. Lebih banyak dari bedah buku yang pertama kita ulas tadi. Perpustakaan penuh sesak. Herannya, peserta paling banyak berasal dari kampus UGM. Tepatnya para pengurus atau “jamaah” Perpustakaan Baitul Hikmah UGM. Bahkan senior saya di kampus UGM yang menggeluti tema ini juga datang. Sehabis agenda selesai, saya masih terheran-heran, “Hebat sekali ya Baitul Hikmah (UGM) menciptakan kecintaan pada buku ke pengurus atau jamaahnya?” Tak disangka, peserta yang mendominasi justru dari UGM. Saya menyadari, di bedah buku itu masih banyak kekurangan, bahkan saya melewatkan satu pemikir penting di Indonesia mengenai tema sejenis, yakni Pak Kuntowijoyo. Di bedah buku itu, saya tak mengulasnya sama sekali.

Itu cerita yang kedua. Kalian juga pasti akan bertanya lagi, apa anehnya bedah buku tersebut? Coba disimak lagi. Jangan terlalu serius. Nanti juga ketemu.

Berikutnya, kita sebut saja bedah buku paling aneh yang ketiga. Masih sama dengan yang kedua, bedah buku ini adalah program kerja dari perpustakaan Masjid al-Mujahidin UNY. Bedah bukunya berseri (berturut-turut). Buku yang dibedah adalah buku terjemahan yang berjudul Misteri Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib karya Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani. Hari ini sudah diterjemahkan dengan versi revisi terbarunya dengan judul terjemahan Model Kebangkitan Umat Islam. Bukunya diterjemahkan oleh Ustadz Asep Sobari. Saya seringkali merekomendasikan buku ini jika sedang berbicara mengenai tema kebangkitan umat.

Kajian buku ini diselenggarakan setiap ba’da Ashar sampai menjelang maghrib. Jangka waktunya saya lupa, entah sepekan sekali atau dua pekan sekali. Jika kajian sebelumnya digandrungi anak UGM, di kesempatan kajian ini juga masih digandrungi anak kampus lain, yakni UPN. Jika dilihat, jaraknya tentu agak jauh. Ya, agak jauh sedikit. Coba saja kalian lihat maps-nya dari kampus UPN ke kampus UNY. Setiap kajian itu usai, saya juga masih tak habis pikir, “Kok bisa ya anak-anak UPN menyempatkan hadir untuk kajian ini dengan jarak yang tak dekat?”

Nah, itulah cerita yang terakhir. Sekali lagi, apa anehnya? Kalau sampai sini kalian masih bingung dan belum menemukan keanehannya, ya sudah. Jangan dipaksakan. Khawatirnya nanti malah kena migran. Jangan terlalu serius membaca tulisan ini.

Pengalaman ketiga bedah buku di atas selalu membekas di kepala. Mungkin memang karena keanehannya. Seandainya kalian di posisi saya ketika itu, apa yang kalian pikirkan dan rasakan? []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *