Cepat Bosan

Pernah suatu ketika mendapati seorang senior se-almamater di kampus mengeluhkan ketika mendengar cerita, yakni keluhan seorang istri yang suaminya cepat bosan. Maksudnya cepat bosan pada pekerjaannya. Baru kerja beberapa bulan, resign, lalu cari lagi. Di masa mencari, pasti ada jeda waktu untuk berhenti alias nganggur. Begitu terus menerus terjadi. Berkali-kali. Rasa-rasanya seperti tak ada daya juangnya.

Saya tak akan melanjutkan cerita itu karena endingnya menggelikan. Senior ini tak mau lagi menjadi “perantara-perantara nikah”. Maksudnya? Soal ini, saya yakin kalian paham. #pis

Baik, sebetulnya bukan itu point yang ingin dibahas di tulisan ini. Saya hanya ingin menyoroti mengenai soal “daya juang”. Saya kurang tahu, apakah kisah nyata di atas hanya terjadi pada beberapa orang saja (kasuistik) atau justru sekarang menjadi semacam hal yang lumrah mengingat generasi milenial (zaman now) memiliki karakteristik yang berbeda. Tentu kita berharap semoga hanya kasuistik. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi pada banyak orang di generasi milenial hari ini? Dan, bagaimana akibatnya jika itu terjadi pada diri laki-laki yang pada dasarnya berkewajiban untuk mencari nafkah serta pemimpin keluarga?

Jawabannya saya serahkan kepada kalian masing-masing. Tapi setidaknya, ini menjadi rambu-rambu bagi para perempuan yang sedang “mencari” jodohnya. Begitu juga menjadi semacam “warning” bagi para laki-laki untuk mengevaluasi diri.

Implikasi persoalan ini besar, yakni kondisi rumah tangga. Sebenarnya―bagi teman-teman yang mengikuti tulisan saya―jarang sekali saya menulis topik berkaitan dengan keluarga atau parenting sebut saja. Tapi kali ini saya coba menuliskannya. Saya merasa ini penting. Juga menjadi evaluasi bagi diri pribadi. Dari persoalan rumah tangga, hasilnya akan merembet kemana-mana.

Itulah mengapa disebutkan dalam ajaran agama kita, kalau pekerjaan setan yang paling membahagiakan adalah ketika memisahkan suami dan istrinya. Mungkin mereka berpesta pora untuk merayakan itu. Kalau dibuat buku, judulnya kira-kira begini: Bahagianya Merayakan Perceraian atau bisa juga: Bahagianya Merayakan Benci (kebalikan dari buku best seller anggitan Ust. Salim A. Fillah: Bahagianya Merayakan Cinta).

Kalau kondisi itu terjadi pada istri, mungkin tak masalah. Mengingat istri bukan pemimpin keluarga dan yang paling berkewajiban soal nafkah. Yang perlu digarisbawahi adalah pada suami atau laki-laki. Saya punya rekomendasi buku bagus untuk para laki-laki. Ditulis oleh salah satu penulis Gaza. Judul bukunya: Menjadi Laki-Laki, anggitan Pak Eko Novianto.

Sepertinya cukup begitu saja tulisan ini. Tak perlu ulasan panjang kali lebar kali tinggi. Jika kalian masih berpikir dan mengiyakan orang yang mengatakan pernikahan tidak membutuhkan materi, saya sarankan tepikan dulu. Betul, pernikahan tak hanya membutuhkan materi. Saya juga tak mendewakannya. Namun, materi adalah salah satu dari sekian banyak yang berpengaruh pada kondisi bahtera rumah tangga. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *