“Orang seperti kita itu hanya punya mimpi Boy!” Pagi ini saya teringat dengan pesan Arai dalam tetralogi Laskar Pelangi anggitan Andrea Hirata. Saya sendiri lupa sebenarnya, kalimat ini diucapkan dalam buku pertamanya (Laskar Pelangi) atau di buku keduanya (Sang Pemimpi), atau malah di dua buku lainnya. Pesan Arai mengingatkan kepada kita yang memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan agar tak menyerah pada keadaan. Semuanya, berawal dari mimpi. Kalau kata lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Giring, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia.” Mungkin itu sebabnya Mas Giring punya mimpi besar: jadi presiden!
Nah, kalau begitu adanya. Bisa disimpulkan bahwa cara paling ampuh untuk sukses dan bahagia adalah bermimpi. Bagaimana cara bermimpi? Ya, tidur! Jadi, selamat tidur dan menjalankan ibadah puasa. #pis
Bukan itu maksudnya. Maksud dari Arai adalah menetapkan impian besar dalam hidup. Namun ternyata ada yang lebih penting dari pesan Arai, yakni usaha untuk mewujudkannya. Ternyata sebagian kita hanya berhenti dari impian dan cita-cita. Tidak ada semacam “ghirah” untuk benar-benar mewujudkannya. Sampai sini persoalan kita selesai.
Sudah? Iya, sudah. Karena persoalan terbesarnya adalah bagaimana kita mewujudkannya, ya itulah yang perlu dilakukan.
Kita ingin menulis buku di tahun ini. Lalu, bagaimana caranya? Satu-satunya cara ya kita harus menulis. Mau tidak mau memang harus begitu. Tiada cara lain, satu-satunya cara: menulis. Sebanyak apapun kita mengikuti seminar dan workshop menulis, tentu tak akan ada manfaatnya jika kita tidak mempraktikan ilmunya, yakni menulis.
Sampai sini, jangan sampai kita terjebak dalam angan. Kita ingin begini, kita ingin begitu (bukan lagu Doraemon). Tetapi hanya sebatas ingin. Bahkan, ada yang hanya mencoba “peruntungan”. Padahal perlu kita ketahui, keberuntungan itu tak perlu dicari dan tak perlu dipikirkan. Namanya saja keberuntungan.
Aneh memang, dulu saat SMA dan ingin lanjut ke kuliah, saya hanya berpikir satu, “Dari semua jurusan yang ada, yang punya kesempatan kerja besar itu yang mana?” Akhirnya saya memilih (pendidikan) seni rupa. Silakan buktikan sampai sekarang, di SMA/ SMK/ MA bisa dipastikan jarang sekali memiliki guru seni yang asli berilmu seni (maksudnya jurusan aslinya memang dari seni). Kalau pun ada, pasti baru salah satu seni saja, misal seni rupa, seni musik, atau seni tari.
Setelah lima tahun berkelana (mungkin enam tahun malah, menuju kejatuhan di angka tujuh) di dunia seni, dan anehnya lagi malah saya tak menekuninya dengan serius, ternyata saya sendiri tak menjadi perupa atau guru seni rupa. Sesuatu yang saya pikirkan sembilan atau sepuluh tahun lalu. Kalau dipikir-pikir, seperti ada yang salah. Lima sampai enam tahun untuk apa jika yang saya tekuni sekarang malah jauh berbeda?
Kita memang meyakini bahwa dalam setiap perjalanan kehidupan tak ada yang tak berguna. Tapi jika lima tahun itu dimaksimalkan dengan baik mungkin sekarang saya telah menjadi seniman yang otoritatif. Mungkin saya telah menjadi guru seni yang mengisi banyak kekosongan. Mungkin saya tak perlu memulai dari awal lagi (belajar di suatu bidang). Dan faktanya, kejadian seperti ini tak hanya menimpa diri saya pribadi. Banyak sekali orang yang kemudian mengubah haluannya setelah bertahun-tahun mempelajari suatu bidang. Sebenarnya tak masalah. Hanya saja jika sedari awal kita bisa merencanakan mimpi kita dan kuat untuk mewujudkannya, maka waktu yang telah kita lalui bertahun-tahun tak akan sia-sia. Jika sekarang kita sudah bisa seperti ini, mungkin seharusnya bisa lebih dari yang ini. Ini bukan berarti kita sedang mengkufuri nikmat, kita sedang sejenak bertafakur.
Saya merasa persoalan ini penting untuk digarisbawahi anak-anak muda zaman kini. Apalagi di zaman sekarang, generasi muda kita lebih senang sesuatu yang bebas dan tidak terikat, termasuk soal pekerjaan, karir, masa depan, dan semacamnya.
Nah, jika sekarang ternyata kita sedang berada di haluan berbeda dan memulai dari awal lagi, yang perlu kita catat adalah jangan sampai kita mengulangi kesalahan sebelumnya. Seperti apa yang telah kita bahas sedari mula: tidak kuat “ghirah” untuk menekuni dan mewujudkannya, mudah bosan, dan menyia-nyiakan waktu. []
Viki Adi N
Ruang kerja penuh debu dan buku
