Suatu hari, di sela proses belajar mengajar sedang berlangsung, seorang anak menyeletuk kepada saya, “Sabar, miss.” Ucapan tersebut ia lontarkan lantaran melihat saya yang cukup terburu-buru menyiapkan sesuatu. Setelah mendengar hal itu, saya pun menghentikan aktivitas sejenak kemudian menatap anak tadi dengan lekat dan bertanya, “Ais (bukan nama sebenarnya), kalau menurut Ais, memang sabar itu apa?” Sembari menatap saya disertai tangannya yang sedang meraut pensil, ia dengan mantap menjawab, “Sabar itu tenang, miss.”
Se-simple itu reponsnya. Mendengar jawaban yang ia berikan, saya justru tertegun sekaligus tertohok. Anak kecil berusia belum genap enam tahun tersebut sudah bisa mendefinisikan sabar dengan sederhana dan seserius itu. Tenang merupakan satu kata kunci yang ia temukan sebagai solusi. Disaat saya tidak kepikiran satu kata tersebut ketika sedang kalut dengan berbagai distraksi dalam satu waktu.
Teringat salah satu nasihat dari seorang guru (semoga Allah menjaga dan merahmati beliau) yang menjelaskan mengenai tergesa-gesa adalah sifat yang tidak disukai Allah. Beliau memberitahukan perihal sifat satu ini serta merujuk pada hadis riwayat Al-Bukhari yang memiliki arti, “Sesungguhnya dari dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yakni sabar dan tidak tergesa-gesa.” Selain itu, beliau juga mengutip sebuah hadis lagi dari riwayat Abu Ya’la yang artinya, “Sifat perlahan-lahan itu bersumber dari Allah, sedangkan sifat tergesa-gesa bersumber dari setan.” Subhanallaah.
Melalui hal ini, seakan diingatkan kembali bahwa ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari setiap peristiwa yang sedang atau telah dialami. Bentuknya pun beragam, salah satu contoh kecilnya bisa berasal dari interaksi kita dengan anak-anak. Meski secara fisik tak sebesar kita, namun siapa sangka jika pikiran mereka terkadang lebih jernih daripada orang dewasa. Bisa jadi mereka lebih ‘idealis realistis’ daripada kita yang katanya sudah lebih nalar akalnya. Kemudian, hikmah lain adalah belajar bisa dari siapa saja, tak memandang usia. Ambil faidahnya, lalu jadikan pelajaran sebagai bahan refleksi untuk diri kita, dan yang terpenting semua atas izin Allah ‘Azza wa Jalla.
Sarah Az Zahra
