Keminderan penulis (baru) ketika akan membagikan tulisannya ke publik salah satunya dikarenakan tidak percaya diri apakah tulisannya sudah enak dibaca dan mudah dimengerti oleh banyak orang atau justru malah sebaliknya, kacau, membingungkan, dan ah sudahlah. Persoalan ini memang wajar adanya. Sekarang, kita tidak perlu minder lagi. Di tulisan yang cukup singkat ini saya ingin berbagi sedikit trik untuk mengurangi rasa minder. Kuncinya ada pada menghidupkan esai.
Menghidupkan esai sebenarnya cukup sederhana. Esai yang hidup akan membuat pembaca merasa ingin menyelesaikan dan menuntaskan tulisannya walau mungkin bisa dikatakan cukup panjang. Esai yang hidup juga tak banyak mengungkap hal yang tak perlu. Efektivitas dan keterbacaan pesan adalah yang utama.
Sebelum jauh membahas trik sederhananya, alangkah baiknya memang para penulis (baru) agar tetap dan terus belajar pakem ejaan bahasa Indonesia yang benar dan terkini. Kalau zaman saya dulu ada istilah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Adapun hari ini biasa disebut PUEBI (Pedoman Umum dan Ejaan Bahasa Indonesia.
Lalu, apa saja trik menghidupkan esai?
Trik pertama ialah menggunakan petikan kisah, cerita, atau dialog. Deskripsi atau bahasan esai yang hidup bertujuan agar esai tidak terlalu kaku dan lurus. Memang, ini adalah gaya yang saya sukai. Namun perlu diketahui bahwa esai yang kaku dan lurus belum tentu disebut esai yang buruk. Bisa jadi karena gaya esaisnya memang begitu atau bisa jadi pula karena sedang membawakan tema yang serius tanpa teding aling-aling.
Berkaitan dengan kisah misalnya, saya coba kutipkan sedikit tulisan Salim A. Fillah dalam bukunya yang berjudul Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (2006: 18) sebagai berikut.
…Suatu saat ia (‘Amr ibn Luhay) mengadakan perjalanan ke Syam, sebuah negeri yang ketika itu menjadi model kemajuan. Dari Makkah ke Syam, ia seperti orang udik masuk peradaban. Mudah-mudahan tidak bisa diserupakan dengan perjalanan pemuka muslim ‘moderat’ Indonesia ke Amerika Serikat lah. Di sana, dilihatnya penduduk negeri yang elok itu menyembah berhala. Tanpa perlu ikut kuliah bertahun-tahun―atau cuci otak―, tiba-tiba dia menyimpulkan bahwa itulah jalan kebenaran. Argumentasinya logis dan simpel, “Syam adalah tanah tempat diutusnya para Rasul dan negeri diturunkannya kitab suci!”…
Membaca kalimat di atas, penulis sedang ingin menyampaikan pesan, harapan, atau mungkin bisa jadi sindiran ke orang yang mengaku muslim “moderat” melalui suatu penggambaran kisah. Padahal tanpa menggunakan kisah, sebenarnya bisa saja langsung disampaikan. Itu sah-sah saja. Tetapi dengan menggunakan kisah, penyampaiannya akan lebih melengkung, lebih hidup, tidak kaku, bahkan bisa menjadi dalih argumen bahwa dulu ada contohnya.
Contoh lainnya ialah dengan dialog. Esai-esai yang banyak menggunakan dialog bisa kita temukan dalam karya Emha Ainun Najib atau biasa kita kenal dengan Cak Nun. Misalnya, saya kutipkan beberapa penggalan paragraf di bukunya yang berjudul Siapa Sebenarnya Markesot? (2019: 24).
…“Menurut kalian, dari ayat itu, yang paling utama muatan yang mana?” tanya Markesot
“Apa ada yang tidak utama dalam al-Qur’an?” Ternyata Barkodin tidak berhenti ketus.
“Maksud saya, bagi kalian masing-masing, meskipun tidak harus disimpulkan sebagai pilihan bersama. Titik berat bagi seseorang, tidak bagi yang lain. Namun, masing-masing perlu menentukan titik berat pemahaman dan sikapnya, sesuai tahap keilmuannya, pengalaman sosialnya, serta momentum peristiwa yang dia maksudkan.”
“Maksud Cak Sot gini lho …,” Tarmihim mencoba menjelaskan. “Ada orang yang memilih titik berat ayat itu pada bil-hikmah, ada yang mauidloh hasanah, ada yang jadilhum billati hiya ahsan, atau lainnya.“
Markesot membenarkan, “Dalam berkomunikasi, kita harus mengenali menu-menu psikologis yang terdapat pada setiap komunitas dan responden. Kita perlu desain, strategi, siyasah, balaghah, atau lainnya.”…
Penggalan kalimat-kalimat di atas adalah model dialog yang disuguhkan oleh Cak Nun dalam tulisannya. Sebenarnya Cak Nun ingin menyampaikan―salah satunya―bahwa setiap orang yang ingin menyampaikan ayat (agama atau dakwah) harus tahu dengan siapa ia berkomunikasi. Sebenarnya bisa saja ia menyampaikan secara langsung, tapi justru lebih memilih dengan dialog. Barangkali ini berkaitan dengan kemudahan tersampainya pesan sekaligus memang gaya esai yang disuguhkan sedari awal ialah menceritakan tokoh yang bernama Markesot.
Kunci penggunaan dialog juga erat kaitannya dengan penggunaan kalimat langsung dan tak langsung. Para esais harus pandai mengelola hal ini untuk menghidupkan esai.
Trik kedua ialah dengan menggunakan kutipan. Kutipan yang dimaksud bermakna luas. Ia bisa berupa pendapat tokoh, hasil penelitian, data, statistik, gambar, bahkan sampai infografis, dan masih banyak jenis lainnya.
Berkaitan dengan data misalnya, saya ambilkan contoh kutipan esai dalam buku Suara Rakyat Suara Tuhan tulisan Hendri Teja, dkk. (2020: 29).
…Demi mengatasi defisit anggaran, Presiden Chili Sebastian Pinera menaikkan tarif kereta Santiago Metro sebesar 30 peso (US$0,04). Esoknya, ratusan siswa SMA menolak membayar ongkos. Mereka beramai-ramai melompati pintu putar elektronik stasiun. Yel-yel ¡Evade! (Menghindari!) berkumandang. Mereka mengajak komuter “melompat” sebagai protes atas kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Video aksi ini viral di media sosial dan mendapat simpati khalayak…
Di tulisan itu, penulis ingin menyampaikan isu ketidakadilan dan ketimpangan yang akhirnya menjadi salah satu penyebab protes massa atau sosial. Tanpa menggunakan data atau contoh seperti kutipan di atas sebenarnya bisa. Namun dengan adanya data, pembaca menjadi semakin yakin dengan argumen yang dibawa penulis.
Soal kutipan pendapat tokoh, kutipan hasil penelitian, gambar, atau infografis, saya rasa kita semua sudah sering menjumpainya dalam berbagai tulisan. Jika kalian sering membaca berita misalnya, media-media pemberitaan banyak sekali menyajikannya. Banyak esai yang ditulis dengan infografis menarik. Begitu pula beragam hasil penelitian ilmiah dikutip pada suatu esai untuk menguatkan argumen penulis. Misalnya, kalian menulis esai tentang bahaya narkolema (narkoba lewat mata) yang barangkali sedang gencar disosialisasikan. Tentu kalian sudah seharusnya mengutip hasil penelitian para ahli tentang bahaya narkolema, semisal dari segi kesehatan, dari segi emosional, dari segi psikis, dan lain sebagainya. Bahkan untuk menguatkannya, kalian juga perlu memaparkan contoh-contoh kasus tragis dan pilu yang pernah terjadi.
Begitulah dua trik yang bisa saya bocorkan. Namun sebelum mengakhir tulisan ini, saya merasa ada beberapa hal lagi yang perlu diperhatikan oleh seorang esais untuk menunjang kedua trik menghidupkan esai di atas.
Jika esai yang kalian tulis cukup panjang. Jangan lupa buat pemberhentian. Jika esai yang ditulis begitu serius dan tanpa ada sama sekali pemberhentian, bisa dipastikan sebagian besar pembaca akan “kabur” sebelum usai menamatkannya. Pemberhentian juga menjadi tempat beristirahat sejenak bagi pembaca sekaligus mencerna esai yang sedang dibacanya.
Adapun cara membuat pemberhentian cukup sederhana. Kalian bisa membuatnya ke dalam judul sub bab. Misalnya, kalian menulis esai berjudul “Hubungan Agama dan Negara” lalu akan menuliskannya dari beragam aspek, sehingga esai yang ditulis bisa dipastikan panjang. Misalnya, kalian akan menguraikan dalam beberapa aspek, contohnya aspek sejarah, aspek hukum, aspek budaya, aspek ideologi, dan lain sebagainya. Setelah membuka esai dan menguraikan ke dalam beberapa paragraf, tentu langkah berikutnya adalah membuat sub judul, misal sub judulnya ialah “Dalam Tinjauan Sejarah Indonesia”.
Silakan saja perhatikan esai-esai yang berbentuk panjang, pasti ia akan memiliki tempat pemberhentian. Cara selanjutnya, tempat pemberhentian juga terkadang tidak menggunakann “judul sub bab”, tetapi memisahkan dengan suatu tanda (misalnya tanda: *** atau ~~~ atau ### atau ^^^ dan lain sebagainya, bebas saja) lalu memberinya jarak dengan beberapa “enter” ke bawah.
Terakhir, untuk menunjang pembahasan inti tulisan ini, kita harus belajar “bermain” kata penghubung. Banyak-banyaklah mencoba.
Semoga bermanfaat.
Viki Adi N
