Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, ia berkata kepada salah seorang ulama yang berada di dekatnya, “Aku takut neraka.” Kalimat tersebutlah yang menjadi salah satu rahasia mengapa ia sukses memegang jabatan nomor wahid di dunia Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah.
Jika revolusi industri dengan variannya sampai kini disebut-sebut telah banyak melahirkan kesuksesan dan kemakmuran, meski faktanya banyak kesenjangan dengan si kaya dan si miskin, justru di masa Umar bin Abdul Aziz orang kaya dan Baitul Maal negara bingung untuk menyalurkan zakat dan harta. Selain itu, dalam durasi waktu juga cukup berbeda. Jika revolusi Industri berikut sistemnya (yakni kapitalisme) telah berlalu dalam puluhan tahun dengan perbaikan sistem sana-sini melalui pergolakan, justru kepemimpinan dan sistem politik Umar bin Abdul Aziz hanya membutuhkan waktu 2,5 tahun. Tak sampai tiga tahun atau bahkan puluhan tahun layaknya kapitalisme.
Rakyat merasakan kemakmuran, kesejahteraan, dan ketenangan di masanya. Perubahan dan perombakan secara besar-besaran dalam tubuh istana termasuk keluarga (klan) kerajaan. Semua harta yang pernah dirampas secara dzalim harus dikembalikan. Perintah-perintah semacam itu terus diserukan kepada keluarga kerajaan. Dirinya? Jangan ditanya, Umar bin Abdul Aziz justru mengumpulkan semua yang dimilikinya dan menjualnya lalu memasukkan semuanya ke Baitul Maal agar digunakan untuk kepentingan rakyat.
Bayangkan saja, istri Umar bin Abdul Aziz adalah wanita tercantik di zamannya. Ia adalah putri khalifah Abdul Malik yang juga seorang pamannya. Ia adalah wanita paling bahagia karena bisa mendapatkan apa saja tanpa perlu bersusah payah. Namun tetiba saja setelah suaminya menerima tampuk kekhilafahan sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas dunia Islam, ia menjadi wanita miskin dari segi harta. Bagaimana jika posisi kita ada di situ? Saya tak bisa membayangkannya.
Motivasi “takut akan neraka” ternyata telah membuat Sang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz merubah semua haluannya. Motivasi besar itulah yang membuatnya sukses memimpin daulah yang begitu besar. Dan motivasi itulah yang membuat dunia Islam makmur tanpa ada kemiskinan. Para utusan istana dikirim ke semua penjuru dan pelosok untuk menanyakan siapa yang membutuhkan dan kekurangan makanan, harta, siapa yang punya hutang, sampai siapa yang ingin menikah tapi tak punya uang. Semua kebutuhan-kebutuhan semacam itu akan dipenuhi oleh negara.
Mungkin, kita telah mendapatkan ungkapan-ungkapan sufi yang begitu dahsyat. Semisal; “Jika neraka dipadamkan dan surga dibinasakan, akankah ibadahmu terus berlanjut?” atau ungkapan-ungkapan senada lainnya. Tanpa menyalahkan ungkapan-ungkapan tersebut, yang ungkapan-ungkapan tersebut hakikatnya memang benar, tapi pada faktanya motivasi surga dan neraka itu memang sangat berpengaruh pada kondisi psikologis atau jiwa seseorang yang telah diliputi iman dan ilmu.
Sekaliber Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin yang memiliki jiwa ulama, mengingat ia adalah seorang murid Abdullah bin Umar (salah seorang sahabat dan masih satu garis keturunan dengannya) dan ulama-ulama Madinah lainnya, masih dan tetap menjadikan motivasi “ketakutan akan neraka” sebagai pegangan dalam memegang amanah. Motivasi tersebut nyatanya telah menjadikan dirinya sebagai khalifah yang dijuluki Khalifah Kelima setelah Kuhulafaur rasyidin.
Kita selaku manusia biasa yang terkadang terlalu mabuk dengan ungkapan sufi layak sekali untuk belajar kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketakutan pada neraka nyatanya begitu mampu merubah perjalanan dan orientasi manusia. Ketakutan pada neraka mampu membuat orang untuk bersungguh-sungguh mengemban amanah yang dipikulnya. Jika pemimpin kita seperti Umar bin Abdul Aziz yang memulai kepemimpinannya dengan takut akan neraka, niscaya kebajikan dari kebijakanlah yang akan keluar darinya. Bukan kabar mengenai korupsi, hidup yang berlebihan di atas penderitaan rakyat, banyaknya rakyat yang tak bisa makan, dan semacamnya. []
Viki Adi N
