Salah satu kekonyolan kita adalah seringnya membayangkan hal-hal yang belum terjadi. Mungkin, memang fitrahnya manusia yang memiliki pikiran dan emosi, ya seperti itu. Persoalannya, efek membayangkan apa yang belum terjadi bisa berdampak pada dua hal berikut.
Pertama, kecemasan. Hal ini terjadi jika kita berpikir dan berprasangka buruk serta kita tidak bisa mengendalikannya. Ada ketakutan-ketakutan semu. Disebut semua karena memang semuanya belum terjadi, tetapi kita menganggap seolah-olah semua bayangan buruk dan gagal ada dan benar-benar terjadi. Rasa cemas yang terlalu tinggi, bahkan bisa menyebabkan gangguan fisik.
Kedua, antisipasi. Hal ini terjadi jika kita berpikir mengenai dampak buruk yang bisa terjadi ketika kita akan menghadapi suatu hal atau aktivitas-aktivitas tertentu. Bedanya dengan yang pertama, di sini ada kesadaran dan kendali kita selaku manusia yang bisa berpikir dan menalar. Sehingga dengan mengetahui kemungkinan-kemungkinan terburuk, kita bisa bersiap siaga jika itu terjadi. Atau bahkan, kita sudah memiliki rencana-rencana (solusi).
Keduanya, memang terbilang berlebih. Menjalani kehidupan yang saat ini dan menikmatinya, tentu lebih ringan dan tidak banyak menguras energi (pikiran, emosi, fisik, dll.). Namun, dampak kedua masih bisa kita masukkan ke dalam tahap yang bisa ditolerir. Bahkan, ada orang-orang yang menganjurkan hal tersebut ketika kita sering dihadapkan atau dilanda masalah dan merasa kepayahan. Memang, setiap orang biasanya punya hal yang berbeda dalam menangani masalah yang terjadi.
Adapun yang pertama, itulah masalah besar manusia dari zaman dahulu sampai sekarang. Tidak ada penyakit (jiwa) yang begitu membuat orang tidak waras kecuali bermula dari rasa takut dan cemas. Semakin usia manusia bertambah, seharusnya semakin kita bisa mengendalikan pikiran, persepsi, dan emosi. Nyatanya? Justru banyak yang jadi terbalik. Sampai-sampai begitu terkenalnya adagium: dewasa tidak seindah yang kamu bayangkan. Padahal, masalah itu sebenarnya ada di dalam persepsi. Ada di dalam pikiran kita. Jadi, siapa yang menganggap “ini berat”, “ini ringan”, “menyerah”, atau “bisa diselesaikan”? Ya, persepsi dari diri kita sendiri.
Misalnya, jika kita menganggap bahwa kemalangan yang tengah menimpa adalah kado dari Tuhan untuk kita berbenah menjadi lebih baik. Tentu saja, persepsi semacam ini menjadikan manusianya bisa berbenah dan melanjutkan hidup. Hal tersebut berakar dari prasangka baik. Jika sebaliknya? Menyerah bisa jadi jawaban terakhir. Pada beberapa kasus, bunuh diri atau menyalahkan takdir jadi solusi.
Membayangkan apa yang belum terjadi memang tidak penting-penting amat. Namun, efek antisipasi (yang kedua), mungkin bisa dicoba jika sering merasa kepayahan, takut, atau cemas berlebih. Yang perlu diingat, lakukan dengan kesadaran penuh (akal) dan prasangka baik. Bukan untuk membayangkan ketakutan-ketakutan. []
Viki Adi N
