Menengok Gaya Penulisan Kita

Mengupas soal tulis menulis memang tidak ada habisnya. Salah satunya adalah soal gaya penulisan. Gaya penulisan biasanya di pengaruhi oleh apa yang kita baca. Mulai dari pembendaharaan kata hingga titik dan komanya. Tidak hanya itu bahkan ide atau gagasan yang kita tulis juga biasanya di pengaruhi oleh buku yang pernah atau sedang kita baca. Seberapa sering kita bercengkrama dengan berbagai buku tentu sangat menentukan gaya penulisan yang kita gunakan. Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan pesan agar tersampaikan kepada pembaca.

Misal, saya sering membaca bukunya pak Anis Mata suntingan pak Yusuf Maulana soal politik dan gagasan kebangsaannya, mungkin pada gaya penulisan saya secara tidak langsung terpengaruh. Adapun ketika membaca tema lain misalnya persoalan psikologi yang lebih menonjolkan interaksi dengan pembaca seperti karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga juga saya rasa mempengaruhi gaya penulisan saya.

Namun seiring berjalannya waktu biasanya seorang penulis punya ciri khas gaya penulisaannya sendiri. Itu juga tergantung seberapa sering dia menulis. Ketika saya bertemu dengan tulisan-tulisan pak Yusuf Maulana dalam bukunya pada awalnya juga merasa agak berat dengan gaya penyampaiannya, namun ketika berjumpa dengan buku lain beliau ternyata juga mempunyai gaya penulisan yang ringan untuk di baca atau di pahami. Inilah yang menarik dari karya-karya yang disuguhkan beliau, bahkan setiap tema yang beliau tulis seperti memiliki gaya penyampaiannya masing-masing.

Saya sendiri merasa kesulitan untuk memulai menulis. Tapi seperti yang di katakan Pak Eko Novianto bahwa membaca itu menulis, ketika kita sering membaca maka sesuatu yang ingin kita tulis lebih mudah di sampaikan. Memang keahlian ini membutuhkan waktu untuk dapat benar-benar menguasainya. Saya sendiri sangat terbantu ketika bergabung dengan JPG (Jaringan Penulis Gaza), yang secara tidak langsung memacu saya untuk terus menulis.

Meskipun awalnya sedikit susah tapi saya kira jika terus mencoba akan mendapatkan hasil tulisan yang baik pula. Walau saya sendiri juga tidak terlalu pede dengan tulisan saya, apakah bahasa dan gaya penulisannya bisa tersampaikan ke pembaca. Intinya tetap mencoba sampai menjadi terbiasa.

Dan terakhir karena tulisan ini sudah berminggu-minggu saya tumpuk di ruang draft. Ternyata ketika kita akan mengedit kembali atau menulis tema lain, gaya penulisan kita juga jadi kaku. Jadi saran saya, jangan jeda terlalu lama kalau menulis, biar tidak kaku-kaku amat tulisannya. []

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *