Buku yang Mulai Ter(di)lupakan

Salah satu distributor buku mengeluhkan kepada saya bahwa buku-buku yang bermuatan fikrah, gerakan, dan tema-tema tarbiyah sepi dan tak banyak diminati sekarang. Buku semacam modul tarbiyah misalnya, hanya menumpuk jadi pajangan. Lah, bagaimana kondisi penerbit-penerbitnya? Tentu saja tak baik-baik saja. Untuk memenuhi kebutuhan secara “ekonomi”, banyak yang kemudian banting setir ke buku-buku anak misalnya. Ada juga yang membuat bisnis bidang lain dan dijadikan sebagai basis utama “ekonomi”, sementara penerbitan dijadikan nomor dua. Mengingat ia belum bisa menutup.

Saya sendiri melihat bahwa sebagian anak-anak yang aktif dalam dakwah kampus―atau yang biasa disebut-sebut sebagai aktivis dakwah kampus―sepertinya sudah tak begitu tertarik dengan yang begituan. Memang lebih menyenangkan jika berkumpul kemudian mabar (game online). Kondisinya memilukan. Tapi ya, begitulah realitasnya. Anak-anak zaman sekarang lebih suka dengan hal-hal yang bersifat cair. Mereka juga lebih suka nongkrong. Mungkin bedanya kalau dulu nongkrong bawa buku, sekarang cukup bawa gadget dan gas mabar!

Memang tak semua begitu. Masih ada sisa-sisa yang tetap melestarikan budaya ilmu melalui buku. Tak banyak, tetapi kita patut bersyukur masih ada. Jadi, buku modul tarbiyah yang hanya jadi pajangan itu suatu saat pasti akan laku. Masih ada peluang untuk laku. Tapi entah kapan, mungkin nunggu penerbitnya kejang-kejang (#pis). Mungkin juga ketika ada penugasan (baca: semacam taklimat). Itu pun kalau ada penugasan, lah yang ngasih penugasan saja tidak pernah melestarikan budaya ilmu melalui buku, bagaimana jadinya? Ya ndak tau, jangan tanya saya!

Saya hanya tersenyum mendengar keluh kesahnya. Toh, saya juga mengalaminya. Bahkan bukan hanya mengalami ketidaklakuan, justru sampai pelarangan. Tapi ya, sudah. Memang kondisinya seperti itu. Yang bisa kita lakukan adalah merawat yang masih tertarik sekaligus mengajak orang-orang yang mau merawat buku melalui orang-orang yang masih tertarik tadi. Intinya memang dari lingkaran-lingkaran kecil. Sembari berjalan, mengajarkan soal menulis juga menjadi penting. Ini juga bagian untuk menarik kembali.

Setelah kita tahu kondisi yang seperti ini, kiranya kita perlu insaf. Kita perlu tengok diri kita lebih dalam. Jangan-jangan diri kita sendiri yang turut serta menghilangkan budaya ilmu lewat buku pada generasi di bawah kita. Jangan-jangan kita telah membuat semacam kultur yang mengarah ke sana. Atau mungkin, bahkan sampai membuatnya dalam kebijakan struktural termasuk program-program―jika kita orang yang aktif dalam suatu organisasi, komunitas, partai, atau apa pun itu.

Memang, kita perlu memulai semua ini dari diri sendiri. Dari situ dulu saja. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *