Pernah suatu ketika di beranda media sosial muncul foto-foto buku berjudul matinya kepakaran. Sudah lama, saya tak ingat tahunnya. Saya sendiri belum pernah membacanya sampai sekarang apalagi memiliki bukunya. Pertama kali ingat dengan tema kepakaran adalah sertifikasi Anggota Biasa 1 di KAMMI (salah satu organisasi gerakan mahasiswa Islam). Itupun hanya sambil lalu. Lalu lebih menegaskan lagi ketika mulai mengkaji buku Fikih Tamkin. Di situ, salah satunya ditekankan mengenai peran kepakaran atau spesialisasi.
Sebagai orang yang lama bergerak di dunia ekstraparlementer, suatu “spesialisasi” seperti asing dan aneh. Jujur, itu pikiran saya dulu ketika masih menjadi mahasiswa. Menjadi “general” dan semua bisa rasanya seperti keharusan. Menjadi “intelektual organik” rasa-rasanya adalah hal yang lebih patut dibanding sekadar menekuni satu basis keilmuan yang nyata dan expert bahkan pro(fesional).
Namun, di dunia “nyata”, sepesialisasi adalah keharusan. Ini benar-benar berkebalikan dengan dunia ideasi mahasiswa. Ini bukan hanya soal pekerjaan dan duniawi semata, pada faktanya persoalan kebangkitan umat tak terlepas dari apa yang dinamakan spesialisasi, pada Fikih Tamkin misalnya. Dr. Yusuf al-Qaradhawi juga pernah menyinggung soal ini, yakni mulai banyaknya anak-anak muda yang meninggalkan keilmuan yang ditekuninya (misalnya ilmu-ilmu sains alam dan sosial) dan beralih mempelajari spesialisasi di bidang keagamaan, khususnya di kalangan aktivis (gerakan). Padahal, kebutuhan akan pakar-pakar di bidang sains alam maupun sosial adalah mutlak untuk syarat kebangkitan umat.
Sehubungan dengan itu, akhirnya muncul orang-orang yang mudah “berkomentar” mengenai segala persoalan sementara bidang keahliannya tidak mendukungnya. Di sini lah ternyata diam sejenak akan lebih bermanfaat. Sekali lagi, ini dalam konteks dunia “real”. Akan berbeda jika bicara dunia ideasi mahasiswa―apalagi organisasi mahasiswa ekstraparlementer yang memang menuntut untuk bicara semua isu―meski sebenarnya di setiap isu yang spesifik akan ada orang khusus yang menanganinya.
Akan kurang baik, ketika saya yang tidak menekuni keilmuan hadits misalnya, memberikan kritik ilmiah pada kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali atau sebaliknya ke yang “berlawanan”, yakni Syaikh al-Bani misalnya, lalu membagikannya ke publik luas. Mungkin tak masalah jika hanya dibagikan atau diperbincangkan ke kawan-kawan kita, lingkaran kecil kita sendiri, yang bisa dipastikan tidak akan membuat gaduh publik secara luas. Akan tidak tepat juga, saya yang bukan dokter atau ahli farmasi tiba-tiba merekomendasikan obat tertentu kepada publik jika terkena penyakit tertentu. Jika salah, akibtanya pasti fatal. Kecuali sesuatu yang bersifat umum dan telah jamak diketahui orang, misalnya saya memberitahu kalau demam beli saja parasetamol di apotek terdekat. Alhamdulillah, saya bukan public figure yang setiap kali berbicara, omongannya selalu didengarkan dan ditanggapi. Jadi, saya tidak perlu khawatir soal yang beginian.
Kalau kalian mengamati buku-buku saya yang terbit dengan beragam tema, mungkin kalian akan berpikir kalau saya telah keluar dari apa yang sedang kita bahas di sini. Tetapi bukan begitu, yang saya tulis di buku-buku itu justru kebanyakan adalah menulis “pengalaman”. Nah, ini kuncinya. Hemat saya, menuliskan pengalaman itu lebih mudah dan resikonya kecil ketimbang menuliskan apa yang bukan menajdi keahlian kita. Ini penting dicatat untuk para penulis. Jadi, kalau kalian ingin menulis di luar topik “background”, itu tak masalah. Saya telah memberi tahu satu kunci rahasianya.
Kembali ke topik pokok bahasan kita. Pemahaman akan spesialisasi di kalangan aktivis (gerakan Islam) mahasiswa, menurut hemat saya perlu dan wajib. Bukan untuk mengeluarkan mereka dari dunia ideasi dan “intelektual organik”, tetapi untuk menyiapkan mereka selepas “keluar” dari dunia mahasiswa menuju realitas yang sebenarnya. Semua posisi dan peran termasuk semua profesi tidak ada yang tidak berguna untuk suatu proses kebangkitan. Ini adalah kerja-kerja besar yang membutuhkan beragam spesialisasi di semua sisi-sisi kehidupan. Logika ini lebih masuk untuk diterima. []
Viki Adi N
