Indonesia adalah negara berkembang. Sumber daya alam yang berlimpah membuat mata kita terpukau akan keindahan panoramanya. Suku dan budaya manusianya tidak permah terlepas pada adat-istiadat dan para pendahulu yang banyak meninggalkan jejak sejarah yang harus dijaga keasliannya. Flora dan Fauna yang beraneka ragam mampu menjadikan ikonik dunia tak mampu mengalahkan kejayaan sang garuda untuk mengepakkan sayap dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Mina ke pulau Rote. Itulah Nusantara.
Hari ini dan detik ini penulis ingin bercerita singkat tentang kondisi negeri yang dilanda oleh wabah virus corona yang tiada henti membendung rasa kegelisahan hati. Siapa yang kira dan tahu apakah ini masih akan berlanjut hingga beberapa bulan kedepan atau bahkan beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan gejolak rasa menjadi tenang secara lahir dan batin. Berkali-kali sang presiden tercinta menginstruksikan anak buahnya untuk memasang papan pengumuman negara kalau esok akan dilakukan pembatasan kegiatan masyarakat skala mikro artinya para warga desa wajib melakukan pengetatan kembali apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Lalu cerita lainnya datang dari bapak kesehatan yang luar biasa kerja kerasnya untuk menyuplai vaksin pada 150 juta lebih manusia di seluruh pelosok negeri. Oke Pak, kami tunggu hasil kerjanya. Jangan telalu lama vaksinnya disuplai untuk sultan pandora, influenza, apalagi crazy rich PUK (Pulau Untuk Kapok) yang rela mau mengantri duluan dengan membawa kartu sakti untuk mendapatkan suntikan pertamanya. Hehehe. Semoga negara kita selalu sehat imunnya dan sehat mentalnya juga supaya bisa berpikir waras untuk memperbaiki masalah-masalah lainnya.
Lorong waktu pasti terus berjalan. Karma hanya berlaku bagi orang yang dzalim dan munafik untuk mencemarkan nama baiknya sendiri yang katanya jahat – saya jadi teringat cuplikan kajiannya ustadz Adi Hidayat di YouTube – atau berpura-pura membagi beras miskin yang ternyata masuk ke dalam kantong si markipul. Hohoho. Kalau kita tidak siap dengan kondisi seperti ini. Habislah kita. Manusia tinggal menunggu ajalnya, Eh takdir itu kan rahasia Allah semata ya. Semua akan bahagia pada waktunya. Jibrok pernah bilang saat masih nyantri di Tebu Ireng. Ini dinukil dari ayat Al-Qur’an (silahkan dibuka Al-Qur’annya) bunyinya seperti ini:
“Dan sesungguhnya kamu berada di atas akhlak yang besar.” (Q.S. Al-Qalam: 4)
“Maka dengan rahmat Allahlah kamu lemah lembut terhadap mereka dan jika kamu kasar hati, niscaya mereka akan lari dari sisimu”. (Q.S. Al-Imran: 159)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa disekutukannya dia.” (Q.S. An-Nisa: 116)
Manusia itu tempatnya salah. Pak presiden psikologi Islam dunia pernah bilang kalau duniawi itu tempat belajar manusia untuk mengelola hati dan pikiran mereka ke dalam dunia bawah sadar sekalipun. Kita berhak memilih jalannya masing-masing. Ada yang lurus, ada yang belok kanan, dan ada yang belok kiri. Hasilnya pun dapat dirasakan sendiri. Jangan menghakimi. Jangan merasa menjadi manusia yang paling sempurna. Teruslah belajar selagi Allah memberi kita rahmat yang tiada habisnya karena disitulah rasa syukur kita pada sang ilahi.
Fadhi QP
