Ketika membuka facebook biasanya muncul pemberitahuan tentang “kenangan”, salah satunya perihal status yang pernah kita tulis di tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, hari ini tanggal 19 April 2022. Jika kita pada tanggal 19 April di tahun-tahun sebelumnya pernah menuliskan sesuatu di status, pemberitahuan “kenangan” itu muncul.
Setiap kali ada pemberitahuan “kenangan”, saya pasti membukanya. Lucu, aneh, dan apalah gaje sekali. Titik krusialnya mungkin tahun-tahun ketika menjadi mahasiswa. Saya merasa begitu “fanatis”. Kalau meminjam bahasa Syaikh Fathi Yakan dalam buku Ihdzaru al-Aids al-Haraki (versi terjemah: Robohnya Dakwah di Tangan Dai), yakni ashabiyah (fanatisme). Sedikit catatan, makna ashabiyah yang dimaksud di sini mungkin agak berbeda dari apa yang dimaksud oleh Ibnu Khaldun.
Kalau kalian pernah menghabiskan semangkok mie dalam waktu satu jam, maka saya acungi dua jempol tangan. Hampir selama mahasiswa, saya tak memiliki waktu “luang”, apalagi untuk menikmati semangkok mie dalam waktu sejam. Mantap Djiwa! Kala itu, saya (lebih) terforsir pada aktivisme (mahasiswa). Dalam pikiran itu isinya: rekrutmen, dauroh, demo, dan hal semacamnya. Bidang studi yang mau saya tekuni saja terlupa.
Kemudian, pikiran-pikiran fanatisme pada suatu gerakan atau beberapa gerakan Islam (trans-nasional) juga demikian. Sampai-sampai lupa diri bahwa Indonesia telah dan (pernah) dewasa melalui gerakan Islam yang dimilikinya. Buku Pada Sebuah Bahtera Politik adalah serangkaian esai “penebus” kesalahan itu.
Hal-hal semacam ini saya ingat persis salah satunya dari status-status facebook yang pernah saya tulis. Makanya, senior-senior saya di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) menganggap saya tak cocok “hidup” di alam kultural dan budaya semacam FBS yang penuh keragaman dan butuh banyak “toleransi”. Meski dulu saya tak terlalu mengerti dinamikanya.
Saya bersyukur, melalui pemberitahuan “kenangan” mengenai tulisan-tulisan dan rekam jejak digital di masa lalu itu. Pasalnya, saya bisa mengevaluasi diri. Saya pernah terjebak dalam arus yang kurang tepat. Rasanya, fase-fase semacam ini terus terjadi di sebagian (besar) kalangan yang menyebut dirinya sebagai aktivis dakwah kampus (ADK). Atau bisa juga terjadi pada sebagian (besar) orang yang sedang masuk pada fase (awal-awal) hijrah.
Hal semacam ini terjadi biasanya karena rasa semangat yang sedang menggebu namun ilmu yang masuk baru sedikit dan masih berjalan (berproses). Jika ia mau terus-menerus belajar dan membuka diri, belajar dari banyak orang, Insya Alloh “ashabiyah” itu juga sedikit demi sedikit luntur. Tentu ashabiyah yang dimakusd adalah yang bersifat negatif, yakni fanatisme pada suatu kelompok dan biasanya menganggap kelompok atau organisasi (Islam) yang lain kurang tepat. Pada sisi ekstrem: salah! Padahal jelas-jelas mereka adalah saudara seiman yang juga pengikut ahlus sunnah wal jama’ah.
Meski tulisan-tulisan facebook di masa lalu itu singkat dan pendek-pendek, tapi tulisan itu tetaplah cerminan dari pikiran dan apa yang ada di dalam hati. Saya selalu kembali teringat dan merasakan gejolak bagaimana masa-masa itu. Masa-masa itu kini telah menjadi kenangan. Dan kenangan itu bisa disimak dari tulisan.
Itulah mengapa, dengan menulis kita akan abadi. []
Viki Adi N
