Lika-Liku Masa Pandemi dalam Dunia Pendidikan

Siapa guru yang tidak menginginkan anak didiknya pintar, cerdas, dan selalu mendapat nilai bagus di sekolah? Rasa-rasanya tidak ada yang tak menginginkannya. Namun, masa pandemi benar-benar telah berhasil merubah tatanan dunia, termasuk dunia pendidikan di Indonesia. Dalam masa pandemi mulai dikenal istilah-istilah pembelajaran baru seperti: pembelajaran Daring, Luring, dan PTMT.

Pembelajaran Daring (Dalam Jaringan) maksudnya anak-anak belajar secara online dengan memanfaatkan jaringan internet. Banyak aplikasi yang menjadi sangat terkenal akibat masa pandemi. Para guru bisa mengirim tugas melalui WhatsApp dan Google Classroom, atau menggunakan aplikasi Zoom dan Google Meeting untuk melakukan pembelajaran secara langsung melalui hp atau laptop. Masih banyak lagi aplikasi lain yang mulai bermunculan dan mulai ramai digunakan.

Pembelajaran Luring (Luar Jaringan) artinya guru memberikan tugas secara langsung kepada siswa di sekolah, namun para siswa harus mengerjakan tugasnya di rumah masing-masing. Jadi siswa atau wali hanya pergi ke sekolah untuk mengambil tugas, kemudian mengerjakan di rumah.

PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) merupakan proses pembelajaran di mana siswa dan guru dapat belajar bersama di kelas namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan jumlah siswa yang boleh belajar dalam satu kelas masih terbatas, maksimal 50% dari jumlah siswa. Waktu pembelajaran pun masih terbatas, belum 100%.

Jika ada pertanyaan apakah proses pembelajaran di masa pandemi memiliki memiliki dampak terhadap para siswa, jawabannya “Pasti Ada!” Lalu, dampak apa saja yang muncul akibat proses pembelajaran di masa pandemi?

Jika berbicara mengenai dampak, tentu selalu ada dua konotasi, yaitu dampak positif dan negatif. Positifnya, para siswa bisa belajar mengenal teknologi yang semakin canggih, termasuk penggunaan zoom meeting dan google meeting dalam proses pembelajaran. Padahal sebelumnya, bisa melihat seseorang dari jarak jauh hanya ada di film-film fiktif seperti Power Rangers dan Ultraman. Sekitar tahun 2005, melihat pembicaraan melalui layar adalah satu hal yang mustahil. Namun, kini kemajuan teknologi membuat hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin menjadi kenyataan.

Lantas, apa dampak negatifnya? Secara garis besar, dampak negatif pembelajaran di masa pandemi dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Meningkatnya Biaya Pendidikan

Masa pandemi membuat para siswa leluasa untuk belajar di rumah. Berangkat hanya beberapa kali dalam satu minggu atau bahkan sekali dalam satu bulan. Siswa yang belajar di rumah tidak mengeluarkan biaya untuk transportasi ke sekolah. Jadi, biaya apa yang meningkat? Yang meningkat adalah biaya membeli kuota internet. Perlunya internet setiap hari untuk mengetahui kabar dan tugas dari sekolah membuat orang tua harus merogoh kocek lebih. Apalagi bari sekolah-sekolah yang menggunakan zoom meeting setiap hari. Tentu kuota yang dibutuhkan akan lebih banyak. Bahkan di kampung banyak orang tua yang tadinya belum memiliki hp android rela membelikan hp untuk anaknya. Kalau uangnya ada dan berlebih tidak masalah. Bagaimana dengan oang tua yang penghasilannya pas-pasan? Tentu ini cukup memberatkan.

  1. Menurunnya Taraf Serap Siswa

Proses pembelajaran di masa pandemi dilakukan dalam waktu yang lebih pendek, bahkan jam belajar bisa berkurang sampai separuh waktu biasa. Secara otomatis materi pembelajaran yang disampaikan pun tidak sebanyak saat sebelum pandemi. Sehingga, taraf serap siswa pun menurun. Hal ini dapat terlihat dari hasil pelaksanaan penilaian tiap semester yang tidak seperti biasanya.

  1. Munculnya Kelompok Gamers dan You-Tubers yang Menyebabkan Penurunan Moral Anak

Saat pandemi, para siswa mulai berkenalan dengan dunia digital, dari mulai anak SMA sampai anak TK, semua mulai bisa menggunakan hp android yang menggunakan fasilitas internet. Ada berbagai macam aplikasi yang tersedia di hp android. Ini membuat anak-anak yang kreatif tidak bisa diam begitu saja. Anak-anak mencoba mengeksplor dunia dengan membuka aplikasi yang ada, terutama aplikasi You-Tube dan Game.

Membuka You-Tube bukan hal yang buruk. Bermain game juga tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika anak-anak di bawah umur memainkan hp di luar pengawasan orang dewasa. Jangankan anak SD, anak SMA yang belum bisa mengendalikan diri pun bisa terjebak dalam dunia internet.

Tidak sedikit konten You-Tube yang kurang penting dan mengandung etika yang kurang baik dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak sebagai peniru ulung tentu akan cepat meniru perkataan yang mereka dengar. Bahkan para publik figure pun ikut melontarkan kata-kata tersebut yang menyebabkan menurunnya moral dan akhlak anak.

Game adalah salah satu hiburan yang disediakan dunia digital. Namun, kini banyak game yang mengandung kekerasan yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak dan dalam jangka waktu tertentu dapat mempengaruhi psikis anak. Gejala yang muncul contohnya anak menjadi gampang marah, emosi yang meledak-ledak dan meniru adegan-adegan yang ada di dalam game seperti adegan perkelahian. Tentu kita masih bisa mengingat bagaimana masa awal game mulai menjamur di Indonesia di mana terdapat kasus-kasus perkelahian, meniru adegan smackdown yang ujungnya berakhir pada kecelakaan pada anak-anak. Tentu ini bukan efek yang bisa diremehkan.

Tidak semua orang tua memiliki wawasan dan kemampuan yang sama dalam membimbing putra-putrinya. Hal ini terkait dengan tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua. Banyak orang tua terutama di desa yang berpendidikan rendah dan memiliki pemahaman yang kurang mengenai penggunaan hp oleh anak-anak. Banyak juga orang tua yang sibuk bekerja di kota maupun di luar negeri. Hal ini menyebabkan kurangnya pengawasan terhadap anak-anak dalam menggunakan hp. Anak-anak dengan bebasnya bisa membawa hp saat bermain. Mereka bergerombol layaknya anak-anak biasa bermain, hanya saja mereka tidak berlari-larian seperti zaman dahulu, tetapi mereka duduk-duduk sambil asyik menonton You-Tube dan bermain game. Belum lagi konten yang mereka tonton adalah konten yang dapat meracuni otak mereka.

Secara kesehatan, terlalu banyak menatap hp dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Lihat saja orang-orang di sekitar kita, atau mungkin kita sendiri. Berapa banyak yang telah menggunakan kacamata? Tentu sudah lebih banyak dari pada sewaktu kita kecil. Belum lagi efek kecanduan hp yang dapat sangat berbahaya bagi anak-anak. Dalam beberapa kasus yang terkuak, anak-anak yang kecanduan hp dapat menangis histeris ketika hpnya diminta.

Apakah keadaan ini harus dibiarkan lebih lama lagi? Bagaimana nasib anak cucu kita selanjutnya bila generasi mudanya seperti ini?

5/30

Oleh: D. Setiowati

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *