Teknologi Bebas Nilai (2)

Teknologi itu sebagai ilmu pengetahuan. Dalam buku Objectivity dijelaskan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak stagnan, selalu berkembang dan memiliki sejarah. Contoh dalam buku itu pada abad ke 17 konsep objektif itu lebih dikenal dengan “Truth to Nature” atau secara ringkas diartikan sebagai “Benar sesuai Kodrat”, misalnya ketika diminta menggambar pohon atau pun makhluk lain kita cenderung untuk menggambar secara lengkap dan utuh yang mana kita selalu mengidealisasi suatu objek.

Dalam gambar Vitruvian Man karya Da Vinci kita semua tahu bahwa manusia digambar dengan sangat ideal dan presisi, sama bagian atas bawah kanan kirinya. Dan zaman berkembang teknologi pengambilan gambar pun demikian. Potret digital tidak hanya bisa mengambil gambar hanya dari sisi depan saja, dari berbagai sisi dan gaya pun bisa di abadikan dalam sebuah gambar. Namun perkembangan teknologi itu pun tidak mengubah makna dari gambar itu sendiri, jika Da Vinci menggambarkan Vitruvian Man dengan presisi dalam bentuk manusia, maka potret digital pun bisa mengabadikan gambar manusia tanpa mengubah idealitas yang ada.Itulah teknologi memainkan peran penting dalam menaikkan derajat epistemologis ilmu pengetahuan empiris.

Kemudian yang terakhir adalah teknologi sebagai cara pandang. Merujuk pada buku The Question Concerning Technology karya Martin H. dijelaskan tentang cara pandang manusia pra modern dan modern pada saat ini. satu contoh yang diberikan pada buku itu adalah tentang sungai. Zaman dahulu ketika melihat sungai kita akan secara spontan menikmatinya sebagai pemandangan alam yang indah, namun zaman sekarang kita melihat sungai sebagai sumber daya alam yang siap untuk digunakan. Kemudian ada kincir angin, secara sekilas bisa kita artikan bahwa kita mengandalkan alam untuk hidup, mengikuti alurnya, dan sekarang kita bisa melakukan apa saja dengan menggunakan sumber daya yang ada atau bisa dikatakan sebagai kita mengatur alam untuk siap pakai. Itulah dasar yang keempat teknologi sebagai cara pandang.

Dari seluruh ketidakbebasan nilai teknologi, yang paling penting adalah pengguna atau manusianya dalam memanfaatkan teknologi yang terus-menerus berkembang.

Semoga kita bisa semakin bijak dalam pemakaiannya.

Yugana Firda Syu’ari 23/8/21

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *